Di bawah sengatan matahari yang membakar, puluhan warga Desa Oepoli, Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), berjejer rapi di depan satu-satunya sumur bor yang masih mengeluarkan air. Ember dan jerigen berwarna-warni memenuhi halaman, sementara ibu-ibu dengan kain sarung menggendong anak-anak kecil yang rewel karena kehausan. Hanya lima kilometer dari perbatasan darat Indonesia-Timor Leste, desa ini menjadi saksi bisu perjuangan warga melawan dahaga di tengah musim kemarau panjang. Tanah retak-retak di sekeliling, ladang jagung yang biasanya hijau kini coklat tak bernyawa — sebuah pemandangan yang menegaskan betapa kerasnya kehidupan di ujung negeri.
Perjuangan di Bawah Terik Matahari: Antrean Air di Ujung Negeri
Sejak tiga pekan terakhir, sungai kecil di sebelah timur desa mengering total. Tanah-tanah retak dan ladang jagung yang biasanya hijau kini berubah coklat tak bernyawa. Samu (38), seorang petani jagung, mengaku harus berjalan kaki sejauh 3 kilometer setiap hari menuju sumur terdekat sembari membawa jerigen di pundaknya. “Kalau kemarau begini, kami semua rebutan air bersih. Kadang tengah malam sudah antre,” keluhnya lirih. Di sepanjang jalan setapak berbatu, tampak warga lain saling mendahului, berharap mendapatkan jatah sebelum sumur kembali kering. Suasana tegang itu makin terasa saat ember demi ember bergantian menyentuh permukaan air yang semakin menyusut. Kondisi ini diperparah oleh letak desa yang berada di kawasan perbatasan, jauh dari infrastruktur air yang memadai.
- Hanya satu sumur bor yang masih berfungsi untuk melayani ratusan warga di tengah kemarau panjang.
- Sungai kecil di sebelah timur desa sudah mengering total selama tiga pekan terakhir.
- Warga harus menempuh hingga 3 kilometer untuk menjangkau sumber air.
- Antrean dimulai sejak tengah malam karena volume air yang terbatas.
- Sebanyak 500 kepala keluarga menggantungkan hidup pada pasokan air yang ada.
Harapan di Tengah Keringnya Tanah
Pemerintah provinsi NTT sebenarnya telah mengirimkan bantuan berupa 10 tangki air setiap pekannya. Namun, jumlah itu masih jauh dari cukup bagi kebutuhan ratusan keluarga. Air yang tiba kerap habis hanya dalam hitungan hari, memaksa warga kembali berlomba dengan waktu dan panasnya matahari. Anak-anak ikut kepanasan ketika menemani ibu mereka menunggu giliran, sementara orang dewasa berjaga agar tidak ada yang menyela antrean. Para tetua adat pun berharap pembangunan jaringan pipa dari mata air di perbukitan segera terealisasi. Mereka percaya, jika pipanisasi terwujud, warga tidak lagi harus mengantre tengah malam atau menapaki jalan jauh hanya untuk membawa pulang air bersih. Di perbatasan yang terisolasi ini, setiap tetes air adalah nyawa.
Desa Oepoli adalah potret nyata dari garis depan bangsa — tempat di mana semangat bertahan hidup berpadu dengan keterbatasan. Di balik terik matahari dan tanah yang retak, warga tetap teguh menjaga harapan. Mereka tidak hanya berjuang untuk air, tetapi juga untuk martabat sebagai bagian dari Indonesia. Kepedulian kita terhadap saudara-saudara di perbatasan ini adalah bukti bahwa negara hadir, tidak hanya di pusat, tetapi juga di titik paling ujung. Semoga pipa air segera mengalir dan senyum anak-anak Oepoli kembali merekah tanpa rasa haus.