Ratusan kaki melangkah mantap menanjak lereng Sebatik Barat, menembus semak belukar dan medan terjal yang licin oleh embun pagi. Warga Desa Liang Bunyu — dari anak muda hingga orang tua — bahu-membahu membawa bibit pohon di punggung mereka, wajah-wajah bersemangat meski keringat membasahi baju. Di kejauhan, lautan biru membentang, sementara di puncak, patok batas negara Indonesia-Malaysia berdiri tegak seperti penjaga sunyi. Ini bukan sekadar kegiatan penghijauan, melainkan ziarah patriotik ke garis terdepan kedaulatan bangsa.
Ziarah Patriotik di Tapal Batas Sebatik
Di puncak, angin laut membelai wajah mereka yang berkumpul mengelilingi patok nomor NC-3. Tangan-tangan berkulit gelap karena terik matahari laut bergantian menggali lubang, menanam bibit, dan menyiramnya dengan air yang dibawa dari bawah. "Biasanya kami hanya melihat patok dari kejauhan, tapi hari ini kami ikut menghijaukan tanah perbatasan kita sendiri," ujar seorang warga dengan mata berbinar, suaranya hampir tertiup angin yang kencang. Pemandangan di puncak Sebatik sore itu seperti lukisan hidup: seragam hijau TNI berdampingan dengan kaus oblong warga, mahasiswa KKN Universitas Borneo Tarakan mendokumentasikan momen bersejarah ini, sementara personel Marinir dan Satgas Pamtas mengawal prosesi penanaman. Setiap bibit yang tertanam bukan sekadar pohon, melainkan simbol komitmen warga perbatasan untuk menjaga setiap jengkal tanah air, mengakar kuat seperti pohon-pohon yang mereka tanam di tapal batas negara.
Derap Langkah Menuju Garis Depan
Kondisi lapangan yang menantang tidak menyurutkan semangat. Berikut fakta lapangan yang terekam oleh Lensa-Teritorial:
- Medan terjal dengan kemiringan hingga 45 derajat harus ditaklukkan dengan berjalan kaki selama 2 jam dari desa ke puncak patok batas.
- Bibit pohon yang dibawa adalah jenis lokal seperti nyamplung dan ketapang, dipilih karena tahan angin laut dan mampu mencegah erosi di lereng perbatasan.
- Warga membawa air minum dan bibit dalam keranjang anyaman bambu, bergantian membantu satu sama lain saat melewati bebatuan licin.
- Sejak pagi, personel Satgas Pamtas sudah mempersiapkan titik tanam dan memastikan keamanan area patok NC-3 yang berjarak hanya 50 meter dari pos jaga Malaysia.
- Anak-anak muda Desa Liang Bunyu tampak paling antusias; mereka belajar cara menanam dari petugas kehutanan dan berjanji akan merawat pohon-pohon itu setiap minggu.
Bagi warga Sebatik, kegiatan ini adalah bukti nyata nasionalisme yang tidak hanya retorika. "Kami hidup sehari-hari di sini, cinta tanah air adalah menjaga hutan dan batas negara, bukan hanya di upacara bendera," kata Kepala Desa Liang Bunyu, yang ikut memimpin rombongan. Di balik keringat dan letih, tersimpan kebanggaan yang tak ternilai: ikut serta menghijaukan sekaligus meneguhkan kedaulatan di ujung negeri.
Matahari mulai tenggelam di balik cakrawala laut Sulawesi, meninggalkan semburat jingga di antara dedaunan pohon yang baru ditanam. Ribuan bibit yang kini bersemayam di tanah perbatasan adalah janji hidup dari warga Liang Bunyu untuk terus menjaga setiap jengkal tanah air. Di garis depan yang sunyi, nasionalisme tidak lagi sekadar kata — ia berakar, tumbuh, dan menghijau bersama angin laut yang berbisik tentang cinta pada negeri. Mari kita ingat: di ujung timur Indonesia, ada saudara-saudara kita yang setiap hari merawat kedaulatan dengan tangan mereka sendiri. Penghijauan di perbatasan Sebatik bukan sekadar aksi lingkungan, melainkan pernyataan cinta yang tak pernah padam.