Di lereng terjal puncak Sebatik Barat, langkah kaki bergema di antara bebatuan yang menghampar luas. Puluhan warga Desa Liang Bunyu, bersimbah keringat, menapaki medan dengan kemiringan hingga 45 derajat—bibit pohon di tangan, bendera merah putih berkibar gagah di dekat patok batas negara yang menjulang di ujung pandangan. Udara pagi menyegarkan, angin berbisik lembut membelai dedaunan, dan suara langkah kaki beradu dengan tawa akrab yang menghangatkan suasana. Bukan sekadar pendakian biasa; ini adalah perjalanan penuh makna di mana setiap tetes keringat adalah wujud cinta pada tanah air. Personel TNI, Marinir, dan mahasiswa KKN berbaur dengan warga setempat, membentuk mozaik solidaritas di garis paling depan kedaulatan Republik Indonesia.
Menanam Harapan di Ujung Negeri
Di puncak yang menghadap langsung ke negara tetangga Malaysia, suasana gotong royong terasa kental. Tangan-tangan yang sehari-hari mengolah kebun dan menjala ikan laut, kini dengan hati-hati menggali lubang, memasukkan bibit, lalu menimbunnya dengan tanah subur. Seperti menanam harapan untuk masa depan, setiap pohon menjadi saksi bisu komitmen warga perbatasan. Seorang warga dengan sorot mata bangga memandang patok batas dan bibit yang baru tertanam, lalu berkata dengan suara bergetar penuh emosi, 'Kami ikut menghijaukan tanah perbatasan kita sendiri. Ini adalah tanggung jawab kami sebagai warga Indonesia.'
- Kondisi fisik: Medan terjal berbatu dengan kemiringan mencapai 45 derajat, namun tanah di puncak cukup subur untuk ditanami pohon.
- Atmosfer: Suasana kekeluargaan antara seragam hijau TNI, kemeja kampus mahasiswa KKN, dan pakaian sehari-hari warga—membentuk mozaik indah tentang nasionalisme yang hidup di garis depan.
- Suara warga: 'Pohon-pohon ini akan menjadi penjaga alam dan saksi bisu komitmen kami untuk merawat setiap jengkal tanah air,' ujar seorang kepala dusun di sela kegiatan penghijauan.
- Harapan: Bibit yang ditanam diharapkan tumbuh besar, mencegah erosi, dan menjadi simbol nyata kedaulatan Indonesia di wilayah perbatasan Sebatik.
Gotong Royong di Atas Puncak Kedaulatan
Selama beberapa jam, aktivitas menanam pohon berlangsung penuh semangat. Personel TNI bahu-membahu dengan mahasiswa dan warga menggali lubang, menurunkan bibit, lalu menimbunnya dengan tanah. Di sela-sela kegiatan, terdengar celoteh ringan tentang kehidupan sehari-hari di perbatasan—harga sembako yang mahal, akses pendidikan yang terbatas, namun semangat kebangsaan tak pernah padam. 'Kami bangga tinggal di sini. Meski jauh dari pusat, kami tetap merasa sebagai bagian dari Indonesia,' kata seorang ibu rumah tangga sambil membersihkan tanah di tangannya. Bendera merah putih yang berkibar di atas patok batas menjadi saksi bisu tekad warga Liang Bunyu untuk terus menjaga dan merawat tanah kelahiran mereka.
Di puncak Sebatik Barat, setiap pohon yang ditanam adalah deklarasi cinta tanah air yang tak perlu kata-kata besar. Penghijauan di perbatasan ini mengajarkan bahwa nasionalisme tidak selalu tentang seragam atau pidato—ia bisa sederhana seperti keringat yang menetes di tanah, senyum bangga saat melihat bendera berkibar, dan doa agar pohon-pohon itu tumbuh kokoh sebagai penjaga kedaulatan. Warga perbatasan telah menunjukkan bahwa cinta pada Indonesia adalah tindakan nyata, bahkan di ujung negeri yang paling terpencil sekalipun.