Matahari pagi baru saja menyentuh puncak bukit Napan saat Maria Berek (52) mulai menuruni lereng berbatu di Kampung Napan, Kecamatan Bikomi Nilulat, Timor Tengah Utara. Ember kosong di tangan kanannya berayun pelan mengikuti langkahnya yang hati-hati di antara bebatuan kering yang retak-retak. Dari kejauhan, deretan bukit hijau di sisi Timor Leste tampak menyegarkan mata, kontras dengan tanah yang memutih keabu-abuan di sekitar pemukiman warga. Namun, di sanalah — di tapal batas Indonesia–Timor Leste — warga perbatasan ini harus berjuang menghadapi kekeringan yang semakin panjang.
Mengais Air dari Sumur Tua di Ujung Negeri
Mereka datang sejak subuh. Ember-ember warna-warni berjajar di tepi sumur tua yang airnya kini hanya mencapai satu meter. 'Kami membutuhkan 30 menit untuk mengambil air, tapi harus antre dua jam,' tutur Maria lirih, matanya menatap permukaan air yang sebentar lagi akan habis dipindahkan warga ke jeriken-jeriken. Tak ada keluhan keras, hanya kesabaran yang mengiringi setiap tetes air yang berhasil diangkat dari kedalaman sumur. Musim kemarau panjang tahun ini menjadi ujian paling berat bagi Napan, karena sumber air yang biasa diandalkan mulai mengering satu per satu.
Di sepanjang jalan setapak menuju sumur, jejak sandal jepit berserakan di tanah kering. Sebagian warga memilih membawa jeriken di punggung, sebagian lagi menggendong bayi sambil menenteng ember. Suasana pagi itu tidak berbeda dengan hari-hari sebelumnya: antrean panjang, matahari semakin meninggi, dan harapan yang terus digantung pada datangnya mobil tangki.
- Sumur tua satu-satunya sumber air masih menyisakan kedalaman hanya sekitar satu meter
- Warga membutuhkan waktu tempuh hingga 30 menit untuk mencapai lokasi penampungan air
- Antrean pengambilan air bisa mencapai dua jam setiap pagi
- Belum ada jaringan pipa air bersih yang menjangkau wilayah Kampung Napan
Mobil Tangki dan Ketidakpastian di Medan Berbukit
Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara telah menyalurkan janji berupa pasokan air bersih menggunakan mobil tangki. Namun, bentuk medan Napan yang berbukit terjal membuat distribusi menjadi tidak menentu. Jadwal kedatangan sering berubah, dan warga kadang harus menunggu hingga berhari-hari. Mereka hanya bisa berharap tangki berisi air itu benar-benar datang menembus jalanan bebatuan yang hanya bisa dilewati kendaraan roda empat dengan kecepatan rendah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih di perbatasan Timor Leste bukan persoalan musiman belaka, melainkan persoalan infrastruktur yang menuntut perhatian serius. Warga tidak ingin setiap tahun mengulang perjuangan yang sama. Mereka ingin negara hadir tidak hanya lewat janji, tetapi lewat pipa-pipa yang mengalirkan air ke setiap rumah di Napan.
Di ujung negeri, semangat Maria Berek dan warga Napan tidak luntur diterpa kemarau. Mereka tetap menjaga tanah air dengan cara sederhana: bertahan, berbagi air, dan menunggu terang. Sudah semestinya perhatian kita tertuju ke sana — ke kampung-kampung di batas negara yang masih mencari nafas kehidupan dari tetesan air. Karena kedaulatan sejati terletak pada hadirnya negara ketika rakyatnya paling membutuhkan. Air bersih untuk Napan adalah bagian dari menjaga harga diri Indonesia di perbatasan Timor Leste.