POTRET GARIS DEPAN

Warga Perbatasan Aceh Singkil Keluhkan Kelangkaan BBM di Pengecer

Warga Perbatasan Aceh Singkil Keluhkan Kelangkaan BBM di Pengecer

Kelangkaan BBM di Aceh Singkil, khususnya di Desa Kilangan, Kecamatan Simpang Kanan, telah melumpuhkan aktivitas nelayan yang menggantungkan hidup dari laut. Stok premium dan solar di pengecer menipis karena pasokan tersendat akibat cuaca buruk dan jarak tempuh yang jauh. Warga berharap pemerintah segera turun tangan agar kesulitan di wilayah perbatasan ini tidak terus berulang.

Matahari pagi yang biasanya menjadi penanda semangat baru bagi warga pesisir, kini hanya menjadi saksi bisu di Desa Kilangan, Kecamatan Simpang Kanan, Aceh Singkil. Rabu (16/9/2026), deretan jeriken kosong berjejer rapi di pinggir Jalan desa, menjadi potret muram yang sulit dihindari. Di sebuah stasiun pengisian bahan bakar eceran (SPBUE) milik warga, suasana sunyi dan lesu menyelimuti. Pemilik kios duduk terpaku di balik etalase, sementara beberapa nelayan berdiri dengan tangan di pinggang, menatap kosong ke arah pompa kecil yang kering. Di kejauhan, deru mesin tempel yang biasa riuh di pesisir kini hanya terdengar sayup-sayup, seolah ikut meratapi pahitnya hidup di garis depan perbatasan laut Aceh Singkil. Udara laut yang asin berpadu dengan aroma solar yang hampir habis, menciptakan atmosfer yang gamblang menggambarkan ironi di ujung negeri.

Nelayan Terjepit: Aktivitas Melaut Terhenti Akibat Stok BBM Menipis

Rahman (45), nelayan tradisional yang sehari-hari menggantungkan hidup dari hasil tangkapan di perairan perbatasan, berdiri di depan kios sambil memegang selang bensin yang kering. Ia menghela napas panjang, matanya menerawang ke arah dermaga kecil tempat perahunya teronggok tanpa bisa bergerak. "Sudah tiga hari kami kesulitan mendapatkan BBM. Stok di pengecer hanya cukup untuk beberapa orang, itupun harus antre sejak subuh," ujarnya lirih. Kondisi ini membuat aktivitas melaut lumpuh total, padahal laut adalah satu-satunya sumber penghidupan warga pesisir di ujung negeri ini. Warga di Aceh Singkil kini merasakan betapa kelangkaan BBM di perbatasan ini menjadi mimpi buruk yang berulang.

  • Stok premium dan solar di pengecer hanya tersisa beberapa liter – warga yang datang lebih siang harus pulang dengan tangan hampa.
  • Antrean panjang sejak pukul 05.00 WIB – namun banyak yang kecewa karena stok habis sebelum giliran tiba.
  • Perahu nelayan teronggok di dermaga – tanpa BBM, mesin tempel tidak bisa dihidupkan, sehingga pendapatan harian melaut terhenti.
  • Harga di pengecer melambung – karena takut kehabisan, beberapa warga terpaksa membeli dengan harga lebih tinggi dari harga eceran tertinggi (HET).

Di sepanjang pesisir Aceh Singkil, kelangkaan BBM di perbatasan ini bukanlah cerita baru. Namun, intensitasnya semakin sering terjadi dalam sebulan terakhir. Para pengecer mengaku pasokan dari agen resmi tersendat akibat cuaca buruk dan jarak tempuh yang jauh dari pusat kota Singkil. "Kami hanya mendapat jatah setengah dari biasanya. Padahal permintaan meningkat karena nelayan ingin mengejar musim ikan," ujar seorang pengecer yang enggan disebut namanya. Kondisi ini memaksa warga untuk berjibaku dengan kenyataan pahit: di wilayah yang menjadi garda terdepan, justru energi dasar sulit didapatkan.

Garis Depan yang Terlupakan: Infrastruktur dan Harapan di Ujung Negeri

Desa Kilangan berada di titik terluar Kecamatan Simpang Kanan, berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Akses jalan darat masih berupa tanah berbatu, sementara jalur laut adalah satu-satunya andalan mobilitas warga. Sayangnya, ketika gelombang tinggi melanda, distribusi BBM dari pusat kota menjadi terhambat, dan warga di perbatasan inilah yang paling merasakan dampaknya. Mereka bukan hanya berjuang melawan kerasnya alam, tetapi juga harus bertahan di tengah minimnya perhatian terhadap infrastruktur dan kebutuhan dasar di wilayah terdepan Indonesia.

Namun, di balik keterbatasan itu, semangat kebersamaan warga tetap menyala. Para pemuda desa bergantian menjaga antrean agar tidak terjadi rebutan, sementara kaum perempuan menyiapkan kopi untuk para nelayan yang menunggu. Mereka sadar, di tapal batas negeri ini, tidak ada yang bisa diandalkan selain gotong royong dan ketegaran hati. Setiap tetes BBM yang akhirnya didapat, dianggap sebagai kemenangan kecil yang patut disyukuri. Meski pahit, mereka tetap berdiri, karena laut dan tanah ini adalah rumah yang harus dijaga, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sudah sepatutnya negara hadir lebih nyata — memberikan perhatian khusus bagi mereka yang setiap harinya menjaga gatra terdepan, di mana denyut nadi kebangsaan masih terasa jelas di tengah keterbatasan. Semoga cerita kelangkaan BBM di Aceh Singkil ini menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak boleh berhenti di kota, melainkan harus menjangkau hingga ke ujung-ujung negeri.

kelangkaan BBM di Aceh Singkil
Tokoh: Rahman
Lokasi: Aceh Singkil, Desa Kilangan, Kecamatan Simpang Kanan

Artikel terkait