Matahari di Atambua membakar ubun-ubun. Thermometer di sudut Pasar Atambua menunjukkan 34 derajat Celsius, namun lebih dari 40 warga tetap setia mengantre di sebuah depot minyak keliling. Jeriken plastik berwarna biru dan hijau berjejer rapi di atas aspal yang memantulkan hawa panas. Bau solar bercampur debu jalanan menyengat hidung. Di antara mereka, seorang ibu paruh baya dengan kain tenun khas Timor menggenggam erat jeriken 20 liternya. Wajahnya yang keriput menyiratkan lelah, namun matanya penuh harap. Inilah potret riuh sekaligus pilu warga perbatasan yang masih berjuang mendapatkan bahan bakar dengan harga terjangkau.
Antrean Panjang di Depot Minyak Keliling: Potret Keseharian Warga Garis Depan
Depot minyak keliling itu hanya buka tiga kali seminggu. Setiap kali datang, warga sudah menunggu sejak pukul enam pagi. Mereka datang dari desa-desa sekitar Atambua, seperti Desa Silawan dan Desa Tasifeto Timur, yang berjarak puluhan kilometer dari pusat kota. Di gerobak pikap yang dimodifikasi, dua drum berisi premium dan solar menjadi sumber kehidupan bagi kendaraan dan mesin pertanian di wilayah ini. Namun, harganya masih jauh dari ideal.
- Harga premium di depot ini mencapai Rp 7.500 per liter — lebih tinggi Rp 2.500 dari harga resmi di Pulau Jawa.
- Solar subsidi dijual Rp 6.800 per liter, padahal di daerah lain sudah Rp 5.600.
- Seorang warga bernama Yohanes Manek mengaku harus merogoh kocek hingga Rp 150.000 hanya untuk mengisi penuh jerikennya, setara dengan satu hari upah buruh tani.
- Kondisi infrastruktur jalan yang rusak membuat biaya angkut bahan bakar dari kota terdekat, Kupang, semakin membengkak.
Harapan BBM Satu Harga: Meringankan Beban Warga Perbatasan
Ibu paruh baya itu bernama Maria Lopes. Ia tinggal di Dusun Fatulun, Kecamatan Atambua Barat. Setiap minggu, ia harus membawa hasil kebunnya — jagung dan kacang hijau — ke pasar yang berjarak 12 kilometer. "Biaya ojek pulang-pergi Rp 50.000. Itu belum termasuk ongkos bahan bakar kalau pakai motor sendiri. Harga BBM mahal, jadi hasil tani saya makin tipis," ujarnya lirih. Di perbatasan Atambua yang berjarak hanya 40 kilometer dari Timor Leste, warga memang sangat bergantung pada BBM untuk menggerakkan roda ekonomi. Namun, program BBM satu harga yang digaungkan pemerintah pusat tampaknya belum menyentuh ujung barat Pulau Timor ini.
Menurut data Dinas Perdagangan NTT, hingga awal 2025, baru 60 persen wilayah perbatasan di NTT yang menikmati harga BBM setara kota besar. Atambua masih masuk dalam zona merah. "Kami berharap pemerintah segera merealisasikan BBM satu harga untuk wilayah perbatasan. Biarkan warga di sini tidak lagi mengantre selama berjam-jam dan membayar lebih mahal," kata Yohanes saat ditemui di lokasi. Semua warga yang mengantre itu memiliki satu pinta: Indonesia hadir dengan nyata di garis depan, bukan hanya dalam pidato.
Menjelang siang, depot minyak keliling itu mulai tutup setelah drum-drumnya kosong. Beberapa warga yang kebagian pulang dengan lega, namun masih banyak yang gigit jari karena kehabisan. Mereka akan kembali esok hari jika ada pasokan tambahan. Di ujung negeri ini, semangat warga Atambua tetap menyala seperti matahari yang terus membakar. Namun, rasa nasionalisme sejatinu tak cukup hanya dengan bendera dan lagu kebangsaan. Indonesia harus hadir dalam harga BBM yang sama, dalam kemudahan transportasi, dalam kehidupan yang lebih layak. Warga perbatasan adalah garda terdepan NKRI. Mereka menanti bukti nyata bahwa negara benar-benar peduli.