Matahari menggantung rendah di atas perbukitan kering Desa Haekto, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, NTT. Udara panas bergetar di atas tanah retak-retak yang membentuk pola seperti peta pulau musim kemarau. Ibu Anastasia (45) melangkah pelan, ember kuning di tangan kanan dan jerigen air di punggungnya. Setiap langkahnya memecah rerumputan kering yang berderak seperti kertas terbakar. Di kejauhan, sumur komunal sedalam 15 meter mulai terlihat — tiang besi berkarat dan tali tambang yang sudah lusuh. Antrean panjang telah mengular sejak subuh; para ibu duduk lesu di bawah pohon lontar, mengipas diri dengan anyaman daun. Wajah mereka cokelat terbakar matahari, menahan letih yang tak pernah usai. Sumur itu kini hanya menyisakan air keruh bercampur lumpur, harapan terakhir di tengah musim kemarau yang lebih panjang dari tahun lalu.
Derap Langkah di Bawah Terik: Mencari Air di Ujung Negeri
Air bersih menjadi barang langka di Atambua dan sekitarnya, terutama saat kemarau seperti ini. “Air ini kami pakai untuk masak dan minum setelah disaring pakai kain,” ujar Anastasia pelan, matanya menatap ember yang mulai terisi perlahan. Untuk mandi, warga terpaksa berjalan lebih jauh menuju sungai kilat di balik bukit. Kemarau tahun ini memang lebih kejam — sejak Juni lalu, sumber-sumber air mulai menyusut. Bantuan tangki air dari pemerintah kabupaten baru datang dua kali sebulan, tidak cukup untuk 300 kepala keluarga yang menggantungkan hidup pada sumur ini. Setiap tetes yang terkumpul terasa seperti emas cair di tanah perbatasan yang tandus.
- Sumur komunal sedalam 15 meter hanya menghasilkan air keruh bercampur lumpur
- Antrean dimulai pukul 05.00 pagi, dengan rata-rata waktu tunggu 3–4 jam per keluarga
- Air untuk minum dan memasak harus disaring kain, sementara mandi dilakukan di sungai kilat yang berjarak 3 km
- Bantuan tangki air bersih dari pemerintah daerah hanya datang dua kali sebulan, dengan volume 5.000 liter per pengiriman
- Musim kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang dibanding tahun sebelumnya, berdasarkan catatan BMKG setempat
Garda Terdepan yang Haus: Ironi di Perbatasan
Tidak hanya warga sipil yang merasakan dahaga. Di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain, yang hanya berjarak 10 km dari Desa Haekto, para petugas pos juga mengeluhkan krisis air bersih. Garda terdepan penjaga kedaulatan negara ini harus berbagi pasokan air dengan warga sekitar. “Kami kadang hanya dapat air satu jerigen untuk dua hari,” ujar seorang petugas yang enggan disebut namanya. Padahal, pos ini menjadi pintu gerbang utama antara Indonesia dan Timor Leste, tempat bertemunya dua budaya dan denyut kehidupan masyarakat perbatasan. Ironis, di tengah tugas mulia menjaga batas negara, kebutuhan paling dasar justru menjadi pergumulan sehari-hari.
Di bawah pohon lontar yang rindang, Anastasia menuangkan air keruh ke dalam panci tanah liat. Anak-anak berlarian di antara rerumputan kering, seolah lupa bahwa musim kemarau belum akan berakhir. Di ujung negeri ini, setiap tetes air bersih adalah cerita perjuangan — perjuangan untuk bertahan, untuk berharap, dan untuk tetap setia pada tanah yang mereka cintai. Di perbatasan yang sunyi ini, air bukan sekadar sumber kehidupan, melainkan simbol ketahanan bangsa yang tak pernah padam. Wajah-wajah seperti Anastasia adalah potret nyata nasionalisme: bertahan di garis depan, menanti uluran tangan, namun tetap bangga menjadi bagian dari Indonesia.