Langit kelabu menggantung rendah di atas Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Hujan deras sejak dua hari terakhir menggenangi jalan setapak yang menghubungkan permukiman warga di Kampung Tanjung Baru dengan pasar terdekat. Seorang ibu paruh baya memanggul ember berisi sayur dan ikan asin, melangkah hati-hati di atas papan kayu yang dipasang warga di atas kubangan air setinggi lutut. Di warung papan sederhana milik Pak Usman, harga minyak goreng kini menembus Rp25.000 per liter, naik tiga ribu rupiah dalam sepekan. Gula pasir dan tepung terigu juga ikut merangkak naik. Warga mengeluh karena distribusi logistik dari Pontianak sering terhambat saat cuaca buruk. Di tikungan jalan, beberapa motor terhenti karena banjir setinggi 40 cm. Anak-anak sekolah terlihat tetap berangkat dengan seragam basah kuyup, sementara para petani karet menunggu cuaca reda untuk menyadap getah.
Potret Perjuangan Warga di Tengah Cuaca Ekstrem
Cuaca ekstrem dengan curah hujan tinggi yang melanda Entikong, wilayah perbatasan Kalbar, membuat akses transportasi dan distribusi barang semakin sulit. Jalan utama menuju perbatasan Kalbar ini kerap terendam banjir, sehingga truk pengangkut logistik dari Pontianok harus menempuh rute alternatif yang lebih panjang. Kondisi ini berdampak langsung pada harga sembako yang melonjak drastis. "Kami sudah terbiasa dengan cuaca seperti ini, tapi kalau harga naik terus, kami bingung mau beli apa untuk anak-anak," ujar Usman, pemilik warung sembako. Warga lain mengaku terpaksa mengurangi porsi makan atau menggunakan minyak goreng lebih hemat.
- Harga minyak goreng naik Rp3.000 dalam sepekan, menjadi Rp25.000 per liter
- Gula pasir dan tepung terigu ikut merangkak naik Rp2.000 per kilogram
- Distribusi logistik dari Pontianok sering terhambat akibat jalan tergenang
- Petani karet harus menunda menyadap getah karena hujan terus
Dampak Cuaca pada Aktivitas Warga
Curah hujan tinggi yang tak kunjung reda juga mempengaruhi keseharian warga di perbatasan Kalbar ini. Anak-anak sekolah terpaksa berangkat dengan seragam basah kuyup karena tidak ada jalan kering untuk dilewati. Para orang tua hanya bisa pasrah, berharap segera ada perbaikan infrastruktur atau bantuan logistik dari pemerintah. Di sisi lain, para petani karet—yang menjadi tulang punggung ekonomi rumah tangga di sana—harus menunggu cuaca cerah untuk menyadap getah. Jika hujan terus, hasil panen mereka menurun drastis, ditambah lagi dengan harga jual yang tidak menentu.
Di sepanjang jalan utama Entikong, genangan air setinggi 40 cm masih terlihat. Beberapa warga memasang papan kayu sebagai jembatan darurat di atas kubangan. Namun, bagi mereka yang sudah lanjut usia, melintasi jalan becek dan tergenang air menjadi risiko tersendiri. "Setiap musim hujan begini, kami selalu waspada. Tapi mau pindah ke mana? Ini rumah kami, ini tanah air kami," kata seorang ibu yang ditemui di tepi jalan. Semangat kebangsaan kental terasa di ujung negeri ini, meski di tengah keterbatasan dan cuaca ekstrem.
Ketika Jakarta tenggelam dalam gemerlap pembangunan, di perbatasan Kalbar seperti Entikong, warga masih berjuang melawan banjir dan harga sembako yang melambung. Mereka adalah garis depan yang menjaga kedaulatan negara setiap hari, dengan segala keprihatinan dan rasa bangga. Sudah sepantasnya kita, sebagai bangsa, tidak melupakan mereka. Kiranya bantuan dan perhatian lebih segera tiba di pelupuk mata perbatasan, agar anak-anak dapat bersekolah tanpa seragam basah, dan ibu-ibu dapat membeli minyak goreng tanpa rasa cemas.