INFRASTRUKTUR

Warga Perbatasan Entikong Masih Andalkan Air Hujan dan Sumur Bor

Warga Perbatasan Entikong Masih Andalkan Air Hujan dan Sumur Bor

Di Desa Entikong, Kalimantan Barat, warga perbatasan masih bergantung pada air hujan dan sumur bor keruh untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Infrastruktur air bersih yang dijanjikan pemerintah kerap tertunda, sementara di seberang perbatasan, Malaysia, fasilitas serupa mengalir lancar. Realitas ini menggambarkan ironi dan perjuangan warga yang tetap setia menjaga kedaulatan bangsa di tengah keterbatasan akses air bersih.

Di belakang rumah-rumah panggung kayu di Desa Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, jejeran drum plastik dan kaleng cat bekas menjadi pemandangan yang lazim. Air hujan yang baru saja turun menetes dari atap seng yang sudah berkarat, ditampung dengan sabar oleh warga. Seorang ibu paruh baya mengangkat ember dari salah satu drum, airnya tampak jernih namun membawa aroma besi dari atap tua. Di sisi lain, sumur bor yang menjadi andalan hanya mengeluarkan air keruh berwarna kuning kecokelatan—tak layak untuk diminum atau dimasak. Inilah realitas pahit di garis perbatasan Indonesia-Malaysia: akses terhadap air bersih masih menjadi kebutuhan dasar yang belum terpenuhi. Setiap tetes air hujan yang jatuh di atas atap seng menjadi harapan, sementara sumur bor hanya menyisakan kekecewaan. Warga Entikong telah terbiasa bertahan, namun di balik senyum mereka, kegelisahan mengintai setiap musim kemarau tiba.

Potret Garis Depan: Bertahan di Tengah Keterbatasan Air Bersih

Anak-anak berlarian di antara genangan air hujan yang tertahan di tanah merah, memanfaatkan setiap tetes untuk bermain. Di dapur rumah panggung, air tampungan hujan digunakan untuk mencuci piring, mandi, dan kadang—setelah dimasak dengan hati-hati—untuk minum. Warga Entikong telah turun-temurun bergantung pada kemurahan alam, namun setiap musim kemarau menjadi ujian berat. Drum-drum kosong menganga, sumur bor mengering, dan wajah-wajah cemas menghiasi setiap sudut desa. Berikut kondisi infrastruktur air bersih di garis depan perbatasan:

  • Drum plastik dan kaleng bekas menjadi penampung utama air hujan, dengan kapasitas terbatas dan risiko kontaminasi dari atap seng berkarat.
  • Sumur bor hanya menghasilkan air keruh berwarna kuning kecokelatan, tidak layak konsumsi tanpa pengolahan mahal yang jarang terjangkau.
  • Musim kemarau memaksa warga berjalan jauh ke sungai atau membeli air dari pengecer dengan harga tinggi—hingga puluhan ribu rupiah per jeriken.
  • Janji pembangunan jaringan pipa air bersih dari pemerintah daerah kerap tertunda tanpa kepastian, meninggalkan warga dalam ketidakpastian.

Kontras di Ujung Negeri: Ironi yang Tak Kunjung Usai

Di seberang perbatasan, di Sarawak, Malaysia, fasilitas air bersih mengalir lancar ke rumah-rumah warga. Kontrasnya begitu tajam: hanya beberapa kilometer dari pos perbatasan resmi Entikong, warga Indonesia masih harus berjuang untuk mendapatkan air yang layak. “Kami hanya ingin sama seperti mereka di seberang,” ujar seorang tetua desa dengan suara lirih. “Air bersih bukan kemewahan, tapi kebutuhan dasar yang seharusnya negara penuhi.” Setiap hari, warga Entikong menanti realisasi janji pembangunan infrastruktur air yang tak kunjung tiba. Mereka bertahan dengan cara nenek moyang, di tanah perbatasan yang seolah terluput dari perhatian. Ironi ini menggurat di setiap wajah—di satu sisi, mereka adalah penjaga kedaulatan bangsa, di sisi lain, mereka harus berjuang untuk kebutuhan yang paling mendasar.

Di ujung negeri, di mana bendera Merah Putih berkibar di pos perbatasan, warga Entikong masih berjuang untuk kebutuhan yang paling sederhana: air bersih. Mereka adalah penjaga kedaulatan yang tak pernah mengeluh, namun layak mendapat perhatian negara. Sudah saatnya kebutuhan dasar ini menjadi prioritas, agar setiap tetes air yang turun dari langit tidak lagi menjadi satu-satunya harapan di garis depan Indonesia. Dari Desa Entikong, kita diingatkan bahwa kemerdekaan sejati belum tercapai jika saudara-saudara kita di perbatasan masih kesulitan mengakses air bersih. Mari kita jadikan kepedulian ini sebagai langkah nyata, agar mereka tidak hanya bertahan, tetapi juga hidup layak di tanah air tercinta.

Krisis air bersih di perbatasan Air hujan Sumur bor
Lokasi: Entikong, Kabupaten Sanggau, Indonesia, Malaysia, Sarawak

Artikel terkait