NASIONALISM

Warga Perbatasan NTT Rayakan HUT TNI di Tengah Keterbatasan Listrik

Warga Perbatasan NTT Rayakan HUT TNI di Tengah Keterbatasan Listrik

Perayaan HUT TNI ke-81 di Desa Oelbubuk, Malaka, NTT berlangsung sederhana dengan penerangan lampu teplok akibat aliran listrik hanya empat jam sehari. Seorang veteran berusia 70 tahun, Bapak Yoseph, mengharu biru saat menyanyikan 'Bagimu Negeri' diiringi suling bambu. Kisah ini menggambarkan semangat nasionalisme yang tak luntur meski keterbatasan infrastruktur listrik masih menjadi realitas di perbatasan NTT.

Di ujung timur Indonesia, tepatnya di Desa Oelbubuk, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT), perayaan HUT TNI ke-81 berlangsung di lapangan tanah merah yang dikelilingi ilalang kering dan semak belukar. Ratusan warga berkumpul di bawah tenda darurat beratap terpal, diterangi lampu teplok yang berpendar remang-remang. Aliran listrik di kawasan perbatasan ini hanya menyala empat jam sehari—cukup untuk mengisi baterai darurat dan menyalakan radio kecil. Langit mendung menggantung di atas bukit, sementara angin membawa debu tanah yang menempel di pakaian dan wajah. Namun, di tengah segala keterbatasan, semangat kebangsaan justru membara lebih terang dari nyala lampu teplok itu.

Potret Veteran di Tengah Keterbatasan: 'Bagimu Negeri' Mengalun di Perbatasan

Di sudut lapangan, seorang veteran berusia 70 tahun, Bapak Yoseph, duduk tegak di kursi rotan usang. Tangannya gemetar memegang foto usang dirinya saat masih bertugas menjaga tapal batas dengan Timor Leste. Saat lagu 'Bagimu Negeri' dinyanyikan bersama, matanya berkaca-kaca. Tiupan suling bambu dari seorang pemuda setempat mengiringi suara parau warga yang menggema di antara ilalang. "Saya bangga, meski listrik padam, tapi semangat tidak pernah padam. TNI adalah garda terdepan kami," ujarnya lirih. Momen ini menjadi bukti bahwa nasionalisme tidak memerlukan kemewahan, melainkan hati yang menyala.

Infrastruktur Listrik yang Memprihatinkan: Realitas di Garis Depan

Kondisi infrastruktur di perbatasan NTT masih sangat memprihatinkan. Data dari warga setempat menunjukkan:

  • Hanya 4 jam pasokan listrik per hari dari generator desa yang sering rusak.
  • Lampu teplok dan senter bertenaga baterai menjadi andalan utama penerangan malam.
  • Anak-anak mengerjakan PR di bawah pelita minyak tanah, sementara ibu-ibu memasak dengan kayu bakar.
  • Keterbatasan ini tidak hanya pada perayaan HUT TNI, tetapi menjadi keseharian mereka.

Meski demikian, anak-anak desa tetap berlarian riang di lapangan, menikmati suguhan kue tradisional dan air kelapa muda. Tawa mereka menghalau debu dan mendung. Perayaan HUT TNI di sini menjadi pengingat bahwa perbatasan NTT adalah medan perjuangan tersendiri—bukan karena musuh, melainkan karena minimnya akses listrik dan perhatian.

Di ujung timur Indonesia, keterbatasan tidak memadamkan cinta tanah air. Perbatasan NTT mengingatkan kita bahwa setiap jengkal wilayah adalah bagian dari NKRI yang harus diperjuangkan. Saat lampu-lampu kota di pusat gemerlap, ribuan warga di Desa Oelbubuk tetap setia menyalakan pelita harapan demi kemerdekaan sejati: kehadiran negara yang dirasakan hingga ke pelosok.

HUT TNI keterbatasan listrik perbatasan NTT
Tokoh: Bapak Yoseph
Organisasi: TNI
Lokasi: Desa Oelbubuk, Kabupaten Malaka, NTT, Timor Leste, Indonesia

Artikel terkait