SUARA PERBATASAN

Warga Perbatasan Nunukan Serukan Akses Listrik 24 Jam: ‘Kami Ingin Belajar Malam Hari’

Warga Perbatasan Nunukan Serukan Akses Listrik 24 Jam: ‘Kami Ingin Belajar Malam Hari’

Di Desa Tanjung Karang, Nunukan, warga perbatasan hidup dalam keterbatasan listrik yang hanya menyala dua kali sehari. Anak-anak harus belajar di bawah cahaya pelita dan senter HP, sementara warga mendesak PLN untuk menyediakan listrik 24 jam. Aspirasi mereka merupakan pengingat bahwa pembangunan harus menjangkau hingga ke titik terluar NKRI.

Malam di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Sebatik Timur, bukanlah kegelapan yang sunyi. Di pesisir utara Pulau Sebatik yang berbatasan langsung dengan Sabah, Malaysia, kerlap-kerlip lampu minyak tanah dan pelita menjadi pemandangan biasa saat pukul 19.00 WITA. Rumah-rumah panggung kayu yang berjejer di sepanjang pantai hanya diterangi oleh cahaya temaram dari generator pribadi yang dioperasikan bergantian. Di salah satu teras, sekelompok anak muda duduk melingkar, buku catatan terbuka di pangkuan, wajah mereka diterangi oleh nyala kecil lilin. Mereka adalah siswa-siswi yang berjuang menimba ilmu di tengah keterbatasan — belajar malam tanpa listrik yang stabil, sebuah realitas pahit di garis depan Republik Indonesia.

Potret Malam di Ujung Negeri: Infrastruktur Setengah Hati

Kondisi ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Jaringan listrik dari PLN memang tersambung ke sebagian titik di Tanjung Karang, namun hanya menyala dua kali sehari — pagi dan sore — dan mati total menjelang magrib hingga keesokan pagi. Akibatnya, aktivitas warga saat senja hingga malam sangat terbatas. Beberapa warga mampu membeli genset kecil, tetapi bahan bakar minyak harus dibeli dengan harga lebih mahal dari pengecer karena jauhnya akses ke pusat kecamatan.

  • Lampu minyak tanah masih menjadi andalan utama penerangan malam di lebih dari 60% rumah tangga.
  • Listrik PLN hanya menyala pukul 06.00–18.00 WITA, dengan jeda mati pada siang hari selama dua jam untuk pemeliharaan.
  • Warga yang menggunakan genset harus merogoh kocek Rp50.000–Rp100.000 per malam hanya untuk penerangan terbatas.
  • Tiang listrik terlihat menjulang hingga ke garis batas negara, namun sambungan ke rumah-rumah di kampung kecil belum merata.

Di seberang perbatasan, desa-desa di Sabah, Malaysia, telah menikmati listrik 24 jam dari jaringan nasional mereka. Kontras ini kerap membuat warga Tanjung Karang bertanya-tanya: mengapa di ujung NKRI sendiri, hak dasar listrik masih menjadi barang mahal?

Suara Warga: ‘Kami Ingin Belajar Malam Hari’

Pada siang hari, suasana berbeda. Puluhan warga berkumpul di balai desa merespons undangan diskusi dengan perwakilan PLN. Ketua RT setempat, Pak Hasan, membuka pertemuan dengan nada tegas namun sopan. “Kami sudah sabar bertahun-tahun. Tapi anak-anak kami ingin belajar, ibu-ibu ingin menjahit, bapak-bapak ingin memperbaiki alat tangkap — semua butuh listrik malam hari.” Seorang ibu paruh baya, Ibu Siti, mengangkat tangan dengan mata berkaca-kaca. “Setiap jam 18.00 listrik mati, anak saya harus belajar pakai senter hp sampai baterai habis. Kami ingin listrik seperti di kota – bukankah ini juga Indonesia?” Kalimatnya disambut tepuk tangan dan anggukan dari warga lain. Diskusi berlangsung hangat tetapi beradab, hingga petang. PLN berjanji akan meninjau ulang jadwal pemadaman dan mempercepat proyek sambungan ke rumah-rumah terpencil. Namun, tanpa kepastian kapan realisasi, janji itu seperti embun di daun — segar sesaat, menguap keesokan hari.

Selepas pertemuan, langit Nunukan makin gelap. Di rumah-rumah, lampu minyak tanah kembali dinyalakan. Anak-anak kembali belajar di bawah pelita. Seorang remaja bernama Andi, kelas 3 SMP, mengaku sering pusing matanya karena seharian belajar di sekolah lalu melanjutkan di malam hari dengan penerangan minim. “Saya ingin jadi TNI, Bu. Tapi kalau gelap terus, hafalan saya ketinggalan.” Ungkapannya sederhana, namun menyayat hati.

Desa Tanjung Karang bukan sekadar satu titik di peta. Ia adalah gambaran nasib ratusan kampung di wilayah perbatasan Indonesia yang masih bergulat dengan keterbatasan infrastruktur. Warga tidak meminta kemewahan — mereka hanya ingin listrik 24 jam agar anak-anak bisa belajar, ibu-ibu bisa bekerja, dan para ayah bisa memperbaiki hidup. Di ujung negeri yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, semangat nasionalisme mereka tetap membara meski diterangi lilin. Saat roda pembangunan terus berputar di pusat, sudah saatnya perhatian juga berpaling ke tepi, tempat lampu minyak tanah menjadi saksi bisu perjuangan warga negara yang tak pernah lelah berharap. Karena Indonesia tidak hanya milik mereka yang hidup di kota bercahaya, tetapi juga milik mereka yang berjuang di malam gelap perbatasan.

Akses listrik perbatasan pendidikan
Tokoh: Pak Hasan, Ibu Siti
Organisasi: PLN
Lokasi: Desa Tanjung Karang, Kecamatan Sebatik Timur, Sebatik, Nunukan, Malaysia

Artikel terkait