Menjelang senja di Dusun Sontas, Desa Semangat Baru, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, langit berubah jingga keemasan. Di kejauhan, biru pegunungan perbatasan perlahan memudar, digantikan kabut tipis yang merayap di antara pepohonan. Udara dingin khas pedalaman membawa aroma tanah basah dan rerumputan. Dari atas bukit kecil, deretan atap seng rumah panggung warga mulai memantulkan cahaya temaram. Satu per satu, lampu LED di dalam rumah menyala—menggantikan pelita minyak tanah yang biasa bergeming di sudut ruangan. Ini bukan lagi sekadar pemandangan biasa; ini adalah pertanda awal dari babak baru kehidupan di garis depan negeri.
Infrastruktur Terang: Panel Surya Menerangi Atap-atap Perbatasan
Di balik pintu sebuah rumah panggung kayu, seorang ibu bernama Lina duduk di lantai anyaman bambu. Di depannya, televisi berukuran 14 inci menyala—barang elektronik pertama yang ia miliki sejak menikah 15 tahun lalu. Matanya berkaca-kaca saat ia menatap layar yang menerangi wajah kedua anaknya yang asyik menonton tayangan edukasi. “Dulu cuma pakai pelita minyak tanah, sekarang bisa lihat TV. Anak-anak bisa belajar malam, bukan lagi gelap-gelapan,” ucapnya lirih, suaranya bergetar haru. Di luar, di atap seng yang memudar, deretan panel surya berwarna biru tua terpasang rapi—menangkap sisa cahaya matahari yang perlahan tenggelam di ufuk barat. Ini bukan sekadar penerangan; ini adalah peradaban yang mulai merangkak di pelosok perbatasan. Tim dari Kementerian ESDM dan PT PLN (Persero) telah memasang panel surya 50 Watt Peak (WP) per rumah di 50 titik di Dusun Sontas. Infrastruktur listrik tenaga surya ini memberikan dampak langsung yang signifikan bagi warga:
- Lampu LED 7 Watt untuk tiga ruangan—ruang tamu, dapur, dan kamar tidur—menggantikan pelita minyak tanah yang selama ini menjadi andalan.
- Warga berencana menggunakan listrik untuk mengoperasikan mesin penggiling padi kecil dan membuka usaha kelontong malam hari.
- Anak-anak kini bisa belajar di malam hari dengan cahaya yang cukup, membuka akses pendidikan yang lebih baik di garis depan.
Tekad Menerangi 5.000 Rumah di Wilayah Terluar
Program ini merupakan bagian dari inisiatif nasional bertajuk 'Terang Perbatasan' yang menargetkan pemasangan panel surya di 5.000 rumah warga di wilayah perbatasan, termasuk di Entikong, Aruk, dan Badau. Di lokasi-lokasi ini, jaringan listrik negara belum menjangkau karena medan yang berat dan jarak yang jauh dari pusat pembangkit. Di dekat perbatasan langsung RI-Malaysia, bunyi kendaraan patroli sesekali terdengar, namun di dalam rumah, cahaya lampu memberikan rasa aman dan prospek baru. “Ini adalah langkah awal. Ke depan, kami ingin mengembangkan energi surya sebagai sumber daya untuk industri rumahan dan pendidikan anak-anak di garis depan,” ujar Koordinator Lapangan Program, Andi Pratama, sembari memeriksa sambungan kabel di bawah atap. Energi surya di perbatasan bukan hanya solusi infrastruktur, tetapi juga simbol ketangguhan warga yang selama ini hidup dalam keterbatasan. Malam semakin dalam. Suara jangkrik mulai bersahutan di antara pepohonan. Di kejauhan, lampu border post Malaysia tampak berkedip samar-samar. Namun, di gubuk kayu Lina, cahaya terang menyinari meja belajar kayu tua. Di atasnya, buku pelajaran dan pensil tersusun rapi. Sang anak, Rudi, 10 tahun, duduk khusyuk membaca. Ibu Lina mengusap kepala putrinya, tersenyum—cahaya surya telah membawa harapan baru di ujung negeri. Dari atap-atap perbatasan, sinar listrik tenaga surya menyalakan mimpi anak-anak Indonesia yang selama ini terpendam dalam gelap. Inilah wajah perjuangan di garis depan: sederhana, namun penuh makna. Saat lampu-lampu itu terus menyala, kita diingatkan bahwa setiap kilau cahaya adalah bukti nyata bahwa negara hadir, bahkan di sudut paling terpencil sekalipun.