SUARA PERBATASAN

Warga Perbatasan RI-PNG Keluhkan Listrik Padam Bergilir

Warga Perbatasan RI-PNG Keluhkan Listrik Padam Bergilir

Warga perbatasan RI-PNG di Distrik Muara Tami, Jayapura, mengeluhkan pemadaman listrik bergilir yang berlangsung hingga 12 jam sehari. Anak-anak terpaksa belajar dengan senter dan lilin, sementara aktivitas ekonomi lumpuh. Harapan mereka agar pasokan listrik di perbatasan Papua segera dibenahi, sebagai wujud kehadiran negara di garda terdepan NKRI.

Senja mulai merayap di atas garis cakrawala, membalut langit Skouw dengan warna jingga. Di Distrik Muara Tami, Kota Jayapura — titik paling timur Indonesia yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini — suasana sunyi terasa mencekam. Dari beranda rumah panggung kayu khas Papua, tampak anak-anak bermain di bawah cahaya lilin yang berpendar kecil. Lilin-lilin itu menjadi pengganti lampu, menyala satu per satu saat malam semakin menjelang. Namun, hanya itu yang bisa mereka lakukan. Sejak tiga bulan terakhir, pemadaman listrik bergilir menjadi pemandangan biasa di wilayah perbatasan ini. Di kejauhan, suara generator tetangga bersahutan, bergema seperti ritme kehidupan di ujung negeri. Rumah-rumah panggung di Skouw kini menjadi saksi bisu perjuangan warga melawan rutinitas pemadaman. Dari sini, batas negara tampak jelas: pagar kawat berduri, pos jaga TNI, lalu deretan lampu temaram dari seberang Papua Nugini yang malah terlihat lebih terang. Warga harus bergantian mematikan peralatan elektronik mereka, dan pemadaman bisa berlangsung hingga 12 jam sehari — sebuah paradoks di wilayah yang seharusnya menjadi terangnya NKRI.

Suara Warga di Ujung Negeri

Yuliana, seorang ibu muda, duduk di sudut rumahnya yang remang-remang. Di sebelahnya, sang putri terlihat tekun menulis di atas buku tulis, diterangi oleh cahaya senter yang digantung di dinding kayu. "Anak-anak tetap harus belajar, meski harus pakai senter dan lilin," ujar Yuliana lirih, matanya menerawang ke luar jendela. Suasana ini bukan hanya dirasakan Yuliana. Di sepanjang jalan tanah berdebu di Skouw, warga dengan sabar mengatur ulang jadwal harian mereka. Sejumlah fakta lapangan yang ditemui di lokasi merangkum kondisi ini:

  • Pemadaman terjadi secara bergilir dalam 3-4 sesi per hari, dengan durasi antara 2-3 jam per sesi.
  • Warga di kampung terdekat seperti Skouw Mabo dan Skouw Sae juga merasakan dampak serupa — total sekitar 5.000 jiwa terdampak.
  • PLN setempat menyebut gangguan pasokan akibat kabel distribusi yang rusak dan keterbatasan daya dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Holtekamp.
  • Aktivitas ekonomi lumpuh — warung, bengkel kecil, dan toko kelontong tutup lebih awal akibat tanpa penerangan.

Bagi warga perbatasan, listrik bukan sekadar kebutuhan penerangan. Saat malam tiba, ketiadaan arus listrik membuat batas negara semakin terasa sunyi dan gelap. Anak-anak kesulitan belajar, ibu rumah tangga kesulitan memasak, dan ayah-ayah di kampung harus rela meninggalkan pekerjaan reparasi elektronik karena suku cadang dan alat listrik tak berguna tanpa tenaga.

Potret Garis Depan yang Terlupakan

Bayangkan: di ujung paling timur Indonesia, di mana matahari pertama kali menyinari nusantara, justru kegelapan yang paling dirasakan. Di daerah perbatasan ini, pemadaman listrik bergilir telah menjadi keluhan utama warga. Warga menyuarakan harapan mereka dengan lantang: mereka butuh tambahan pasokan listrik di perbatasan Papua, agar garda terdepan NKRI ini tidak lagi terselimuti kegelapan yang memisahkan mereka dari Indonesia lainnya. "Kami bagian dari Indonesia. Terang harus merata, sampai di ujung," kata Yuliana, matanya berkaca-kaca. Di balik setiap keluhan, ada semangat nasionalisme yang tak pernah padam. Warga perbatasan tetap bertahan, menjalani hidup dengan segala keterbatasan, namun tetap setia menjaga batas negara.

Saat malam semakin larut, cahaya lilin dan senter menjadi saksi bisu perjuangan warga di ujung negeri. Mereka adalah garda terdepan yang tak kenal lelah, yang setiap harinya mengingatkan kita semua bahwa Indonesia tidak hanya berhenti di kota-kota besar. Di Skouw, di Muara Tami, di setiap sudut perbatasan Papua, terang itu harus hadir. Bukan hanya untuk penerangan, tapi untuk menegaskan bahwa negara hadir, bahwa tidak ada satu pun warga yang terlupakan — sekalipun mereka berada di ujung paling timur NKRI. Semangat nasionalisme mereka patut kita dukung, agar setiap anak di perbatasan bisa belajar dengan cahaya yang layak, dan setiap keluarga bisa menjalani hari tanpa bayang-bayang pemadaman yang mencekam.

pemadaman listrik bergilir warga perbatasan Indonesia-Papua Nugini
Tokoh: Yuliana
Organisasi: PLN
Lokasi: Skouw, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Indonesia, Papua Nugini

Artikel terkait