SUARA PERBATASAN

Warga Perbatasan Sabang Minta Perhatian Pusat: Akses Air Bersih Masalah Utama

Warga Perbatasan Sabang Minta Perhatian Pusat: Akses Air Bersih Masalah Utama

Di Gampong Iboih, Sabang, warga menggelar musyawarah darurat untuk menyuarakan krisis air bersih yang mengancam kehidupan di perbatasan. Infrastruktur yang minim membuat mereka bergantung pada tangki yang hanya datang seminggu sekali, sementara pulau tetangga telah memiliki desalinasi. Aspirasi ini menjadi panggilan darurat bagi pusat agar akses air bersih tidak lagi menjadi masalah utama di ujung negeri.

Di pesisir barat Pulau Weh, Sabang, malam mulai turun saat lampu minyak tanah menyala di balai desa Gampong Iboih. Warga duduk leset di bangku kayu yang berderak, wajah-wajah tegang merapat, diterangi cahaya temaram. Di luar, debur ombak Samudra Hindia terdengar sayup-sayup, menyatu dengan suara gemerisik daun kelapa yang tertiup angin. Di dalam, suara mereka menggelegar: air bersih. Mata air yang dulu melimpah kini mengering, dan tangki dari Kota Sabang hanya menjenguk sekali sepekan. Suasana ini bukan sekadar pertemuan—ini adalah panggilan darurat dari ujung negeri, sebuah potret getir di garis depan Indonesia.

Musyawarah Darurat di Balai Desa: Suara dari Ujung Sumatera

Keuchik Rizal berdiri dengan suara parau di bawah lampu tempel, matanya menerawang ke arah barat laut. “Kami bagian dari NKRI, tapi akses air kalah dengan pulau tetangga yang sudah punya desalinasi,” keluhnya, sambil menunjuk ke arah Malaysia yang berjarak hanya beberapa mil laut. Di sekelilingnya, puluhan warga mengangguk lesu, tangan-tangan mereka menggenggam jeriken kosong. Anak-anak bermain di bibir sumur yang hampir kering, sementara kapal nelayan berjejer di pantai—tanda kehidupan yang terus berdenyut meski sumber daya menipis. Aspirasi ini disambut anggota DPRD yang hadir, berjanji mengusulkan anggaran darurat ke pusat; janji yang terasa seperti setetes air di tengah kekeringan yang berkepanjangan.

  • Infrastruktur kritis: Sumur warga menyisakan lumpur; tangki air dari Kota Sabang hanya beroperasi seminggu sekali untuk 150 KK.
  • Perbandingan pahit: Pulau tetangga (Malaysia) telah membangun unit desalinasi skala kecil, sementara warga Iboih masih bergantung pada air hujan yang tak menentu.
  • Suara warga: “Kami di perbatasan sering disebut garda terdepan, tapi kebutuhan dasar saja tak terjamin,” ujar seorang ibu sambil menggendong jeriken kosong, matanya basah oleh embun malam.

Perbatasan Bukan Sekadar Batas: Air, Martabat, dan Nasionalisme

Di Sabang, garis depan bukan hanya tentang pulau jaga atau pos TNI—ia tentang sumur yang mengering, jeriken yang antre, dan anak-anak yang haus. Anggota DPRD yang hadir mencatat setiap keluhan: dari volume air yang tak cukup hingga harga air galon yang membengkak karena diangkut dari daratan Aceh. Udara di balai desa terasa pengap, namun semangat warga tak surut. “Kami tidak minta megaproyek, hanya air bersih mengalir seperti di kota,” tegas sekretaris desa, suaranya nyaris tertelan debur ombak yang kembali menggema. Di luar, gemerisik daun kelapa seolah mengiyakan; perbatasan adalah peta hidup yang warnanya ditentukan oleh ketersediaan air—dan di Sabang, warnanya mulai pudar.

Di tengah samudra, Sabang adalah pusar NKRI yang tak boleh kering. Warga Iboih telah memakukan ‘aspirasi’ ini di hati para pengambil kebijakan: akses air bersih adalah harga mati untuk menjaga nyala nasionalisme di pulau terdepan. Bukan hanya soal pipa atau tangki, tapi tentang martabat bahwa setiap jengkal tanah Indonesia, dari Sabang hingga Merauke, berhak atas kehidupan yang layak. Suara mereka adalah paku yang menancap—menunggu palu pusat berbunyi, menunggu air mengalir sebagai bukti bahwa negara hadir. Sebab, di bibir sumur yang hampir kering itulah, rasa cinta tanah air harus disiram, bukan dibiarkan rekah. Dari Sabang, pesan ini menggema: perbatasan bukan sekadar batas, ia adalah denyut nadi kebangsaan yang harus terus dipelihara.

air bersih perbatasan Sabang
Tokoh: Keuchik Rizal
Organisasi: NKRI, DPRD
Lokasi: Sabang, Aceh, Gampong Iboih, Indonesia, Malaysia

Artikel terkait