Matahari pagi di Pelabuhan Rakyat Sebatik, Kalimantan Utara, menyapa tim jurnalis Lensa-Teritorial dengan sengatan yang menyengat kulit. Udara bercampur bau solar dan garam laut menyatu dengan riuh rendah suara mesin kapal yang bersiap merapat. Di balik tumpukan jeriken plastik dan tali tambang yang kusut, sejumlah warga tampak mengantre dengan wajah letih. Pulau Sebatik, yang hanya beberapa ratus meter dari perbatasan Malaysia ini, bukan hanya garda terdepan Indonesia, tetapi juga tempat di mana setiap rupiah terasa begitu berharga. Namun, yang mereka hadapi pagi itu bukan sekadar rutinitas, melainkan perjuangan melawan harga BBM yang tetap tinggi di ujung negeri.
Jeriken, Antrean, dan Harga yang Tak Kunjung Turun
Siti Rahma, seorang ibu dengan kulit coklat terbakar matahari dan mata yang menyimpan kelelahan, terlihat sibuk mengisi jeriken biru dengan bensin eceran. Dengan suara serak, ia menuturkan keluhannya kepada tim kami. "Harga per liternya Rp 12.000, jauh lebih mahal dibandingkan di Tarakan. Di sini, semua serba sulit," ujarnya sambil mengelus jeriken yang mulai penuh. Perkataan Siti Rahma menggambarkan ironi yang dirasakan warga perbatasan: pemerintah kerap berjanji harga BBM sama dengan daerah lain, namun kenyataannya di Sebatik, kantong warga harus terkuras lebih dalam. Pemandangan kapal-kapal kecil yang berlabuh di sekitar pelabuhan menjadi saksi bisu betapa mahalnya biaya hidup di pulau yang berbatasan langsung dengan negeri jiran.
- Harga BBM eceran di Sebatik mencapai Rp 12.000 per liter, lebih tinggi dibandingkan di kota Tarakan;
- Warga harus merogoh kocek lebih dalam untuk kebutuhan harian, termasuk transportasi dan memasak;
- Tidak ada depo BBM di Pulau Sebatik, sehingga pasokan bergantung pada pengiriman dari luar dan rentan terhadap fluktuasi harga;
- Para nelayan mengurangi jam melaut karena biaya solar yang tinggi, mengancam mata pencaharian utama warga pesisir.
Nelayan, Solar Mahal, dan Harapan Depo BBM di Ujung Negeri
Keluhan serupa datang dari para nelayan yang biasa bersandar di pelabuhan rakyat Sebatik. Mereka mengaku terpaksa mengurangi frekuensi melaut karena harga solar yang tidak masuk akal. "Dulu kami bisa melaut dua kali sehari, sekarang cukup sekali, itupun jika cuaca mendukung," ujar seorang nelayan yang enggan disebut namanya. Dampaknya terasa langsung pada hasil tangkapan yang menurun, sementara biaya melaut justru membengkak. Kondisi ini menjadi lingkaran setan yang menjerat ekonomi warga garis depan. Mereka kemudian berharap agar pemerintah segera membangun depo BBM di pulau terdepan ini. Menurut mereka, keberadaan depo BBM tidak hanya akan menekan harga, tetapi juga menjadi simbol kehadiran negara di tengah keterbatasan.
Keberadaan depo BBM di Sebatik bukan sekadar soal harga, melainkan juga soal keadilan bagi mereka yang menjaga batas kedaulatan bangsa. Setiap pagi, warga Sebatik melihat langsung bendera Malaysia berkibar di seberang selat, mengingatkan mereka bahwa Indonesia dan negeri jiran hanya dipisahkan oleh garis imajiner. Namun di balik itu, warga perbatasan sering merasa sendiri dalam perjuangan ekonomi mereka. Harga BBM yang tinggi adalah satu dari sekian banyak wajah ketimpangan pembangunan di ujung negeri yang masih perlu perhatian serius. Aspirasi yang mereka sampaikan bukan sekadar angka-angka di jeriken, melainkan suara dari mereka yang rela berjuang di titik terluar Indonesia.
Saar mentari semakin tinggi dan pelabuhan mulai ramai, Siti Rahma mengangkat jeriken penuh bensin itu ke atas motornya. Ia tersenyum getir, seakan terbiasa dengan kenyataan yang tak pernah berpihak. Di seberang sana, kapal-kapal kecil kembali melaut, membawa harapan di tengah keterbatasan. Kita yang hidup dengan kemudahan mungkin tidak merasakan betapa pedihnya perbedaan harga BBM di perbatasan. Namun, lewat tulisan ini, mari kita semua merenung dan peduli terhadap perjuangan warga di ujung negeri. Mereka adalah garda terdepan yang mempertahankan tanah air dengan darah dan keringat, serta berhak mendapatkan perhatian yang adil dari pemerintah. Semoga mimpi mereka tentang depo BBM dan harga BBM yang terjangkau dapat segera terwujud, karena di setiap tetes bensin yang mereka beli, terkandung semangat nasionalisme yang tak pernah padam.