Di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, pemandangan itu terjadi setiap hari: rumah-rumah panggung kayu dihiasi antena dan modem yang sinyalnya tak lebih dari satu bar. Warga harus berjalan kaki ke tepi pantai atau mendaki punggung bukit untuk menemukan titik internet yang stabil. Di seberang selat, hanya sepelemparan batu, menara telekomunikasi Malaysia menjulang tinggi — sebuah ironi yang tak bisa diabaikan.
Potret Garis Depan: Antena dan Modem di Setiap Rumah
Udara petang di Desa Pancang terasa lembap. Di aula kantor kecamatan, puluhan warga duduk di kursi plastik, kipas angin berputar pelan. Seorang petani rumput laut, tangan masih bau laut, mengangkat ponselnya tinggi-tinggi. "Kami ingin anak-anak bisa belajar online, tapi jaringannya susah sekali. Kadang harus ke Malaysia untuk menelepon keluarga," ujarnya. Sambutan anggukan dan desahan panjang dari warga lain mengiringi kata-katanya.
- Kondisi infrastruktur: Sinyal internet hanya dapat diakses di titik-titik tertentu — dekat pantai atau di atas bukit. Sebagian besar rumah di Sebatik hanya memiliki satu bar sinyal, tidak cukup untuk video call atau streaming pembelajaran daring.
- Dampak pada kehidupan: Anak-anak kesulitan mengikuti sekolah jarak jauh. Petani rumput laut dan nelayan harus pergi ke perairan Malaysia untuk menghubungi keluarga atau menjual hasil tangkapan secara online.
- Keterbatasan menara BTS: Dari tiga desa paling kritis — Pancang, Sungai Nyamuk, dan Binalawan — baru satu menara yang beroperasi dengan kapasitas terbatas. Jarak antar menara terlalu jauh untuk menjangkau pemukiman padat.
Janji Bupati dan Harapan Digital di Ujung Negeri
Bupati Nunukan, yang hadir dalam pertemuan itu, mendengarkan dengan seksama. Di hadapan warga, ia berjanji akan mempercepat pembangunan base transceiver station (BTS) di tiga desa prioritas. "Kami akan berkoordinasi dengan operator seluler dan Kominfo untuk menghadirkan internet satelit sebagai solusi sementara. Ini komitmen kami, perbatasan tidak boleh tertinggal," ujarnya. Warga menyambut dengan tepuk tangan, meski raut wajah masih menyisakan keraguan.
Menjelang malam, pelataran kantor kecamatan masih dipenuhi warga. Mereka duduk berkelompok, berdiskusi tentang masa depan digital Pulau Sebatik. Di seberang selat, cahaya kota Tawau berkelip-kelip, mengingatkan bahwa Indonesia di ujung timur masih berjuang untuk konektivitas. Dengan akses internet yang layak, sinyal yang kuat, dan dukungan pemerintah, Sebatik di Nunukan bisa menjadi simbol bahwa perbatasan bukanlah penghalang, melainkan garda depan kebangsaan yang patut kita rawat bersama.