INFRASTRUKTUR

Warga Perbatasan Sebatik Keluhkan Sinyal Minim, Pakai Kaleng Bekas untuk Tangkap Sinyal

Warga Perbatasan Sebatik Keluhkan Sinyal Minim, Pakai Kaleng Bekas untuk Tangkap Sinyal

Warga perbatasan di Pulau Sebatik, Kalimantan Utara, setiap hari harus mendaki bukit dan menggunakan kaleng bekas sebagai antena darurat untuk menangkap sinyal internet dari Malaysia. Hanya ada satu menara BTS Indonesia yang jangkauannya terbatas, sementara keluhan tentang sulitnya komunikasi dan akses digital terus disuarakan tanpa realisasi pembangunan infrastruktur baru. Kisah ini menggambarkan perjuangan warga di ujung negeri yang masih menanti kehadiran negara untuk memenuhi hak dasar mereka akan konektivitas.

Senja mulai merambat di ufuk barat Pulau Sebatik, Kalimantan Utara, saat sekelompok remaja dan orang dewasa berjalan menaiki bukit kecil berbatu setinggi sekitar 30 meter. Di tangan mereka, ponsel pintar diacungkan tinggi-tinggi, sementara beberapa lainnya membawa kaleng bekas susu yang diikat dengan karet gelang—sebuah antena darurat yang mereka yakini mampu menangkap sinyal dari menara Base Transceiver Station (BTS) di seberang perbatasan Malaysia. Angin laut bertiup kencang membawa aroma tanah kering dan dedaunan, namun tak satu pun dari mereka yang peduli. Mata mereka terpaku pada layar ponsel, menanti satu atau dua garis sinyal yang muncul lalu hilang. Pemandangan ini bukanlah kejadian langka, melainkan rutinitas harian warga di salah satu titik terluar Negeri Seribu Pulau ini.

Potret Perjuangan di Ujung Negeri

Di atas bukit itu, sekitar pukul 17.30 WITA, puluhan warga berjejer menghadap ke arah barat daya—titik di mana menara Malaysia terlihat samar di balik kabut tipis. Mereka datang dari berbagai desa, seperti Desa Sungai Nyamuk dan Desa Binalawan, yang jaraknya bisa mencapai 5 kilometer. Namun, perjuangan untuk mendapatkan akses internet tidak berhenti di bukit ini. Bagi sebagian warga, membawa kaleng bekas adalah langkah ekstrem yang dianggap lebih efektif daripada mengandalkan ponsel biasa. Berikut kondisi infrastruktur dan keluhan warga yang terangkum di lapangan:

  • Kondisi Infrastruktur: Hanya ada satu menara BTS di Pulau Sebatik milik Indonesia, namun jangkauannya sangat terbatas dan sering mati total saat cuaca buruk. Sebagian besar warga terpaksa mengandalkan sinyal dari Malaysia yang lebih kuat.
  • Suara Warga: “Kami sudah biasa seperti ini. Mau beli paket data mahal, sinyal tetap lemot. Akhirnya pakai kaleng bekas, lumayan dapat sinyal tiga baris,” ujar Marsel, seorang pemuda yang bekerja sebagai nelayan.
  • Fakta Lapangan: Sinyal dari Malaysia hanya dapat ditangkap di titik-titik tertentu, seperti bukit-bukit kecil dan area terbuka. Di dalam rumah, hampir tidak ada sinyal sama sekali.

Harapan di Tengah Keterbatasan Komunikasi

Di antara kerumunan itu, tampak seorang petani muda bernama Rudi (28) yang tengah gelisah. Ia ingin menjual hasil panen cabai rawit dan bawang merahnya secara online ke kota Tarakan, tetapi setiap kali ia mengunggah foto produknya, koneksi internet langsung terputus. “Saya sudah tiga kali gagal. Foto sudah diambil, caption sudah siap, tapi pas upload, sinyal hilang,” keluhnya dengan nada frustrasi. Keluhan serupa juga disampaikan oleh para pelajar yang harus belajar daring, ibu rumah tangga yang ingin menghubungi suami yang merantau, dan pedagang yang kesulitan mengakses informasi harga pasar. Semua aspirasi ini telah disampaikan dalam musyawarah desa dan melalui perwakilan pemerintah kecamatan. Namun hingga kini, belum ada realisasi pembangunan menara telekomunikasi baru di Pulau Sebatik. Pemerintah Kabupaten Nunukan sebenarnya telah mencanangkan program pemerataan akses internet di wilayah perbatasan, namun pulau ini masih menjadi salah satu titik yang paling minim jangkauan.

Di ujung negeri, di mana batas negara hanya dipisahkan oleh garis imajiner, warga Sebatik terus berjuang dengan keterbatasan. Kaleng bekas dan bukit berbatu menjadi simbol kegigihan mereka untuk tetap terhubung dengan dunia. Namun, semangat nasionalisme tak pernah pudar: mereka masih setia mengibarkan bendera Merah Putih dan menanti kehadiran negara di tengah keterisoliran. Butuh langkah nyata untuk memutus rantai kesenjangan digital—agar warga perbatasan tidak lagi harus mendaki bukit demi sepercik sinyal. Mereka adalah garda terdepan yang layak mendapat perhatian dan pelayanan yang setara dari Ibu Pertiwi.

sinyal minim infrastruktur telekomunikasi perbatasan Sebatik
Lokasi: Pulau Sebatik, Kalimantan Utara, Malaysia

Artikel terkait