Fajar belum sepenuhnya menyingsing di perairan Selat Wetar ketika seorang ibu bernama Marcelina, warga Desa Silawan, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, sudah duduk di atas perahu kayu. Di pangkuannya, seorang bayi laki-laki berusia tujuh bulan terbaring lemah dengan suhu tubuh yang panas. Perahu dayung itu hanya berukuran sekitar empat meter, tanpa mesin, tanpa atap pelindung dari terik matahari atau deburan ombak. Dari bibir pantai Silawan, yang langsung berbatasan dengan Timor Leste, Marcelina harus menempuh rute laut sejauh 15 kilometer untuk mencapai Puskesmas Weliman — satu-satunya fasilitas kesehatan di kecamatan seberang. Angin kencang bertiup pagi itu, membuat perahu oleng dua kali. “Anak saya panas tinggi. Saya takut. Saya tidak bisa diam,” ucap Marcelina dengan napas tersengal saat ditemui di dermaga Weliman. Tangannya gemetar memegang kepala bayi yang terus merengek. Perjalanan yang semestinya hanya satu jam, menjadi hampir dua jam karena arus laut yang tak bersahabat.
Perjuangan Ibu dan Bayi di Perbatasan Timur
Sesampainya di dermaga Weliman, Marcelina masih harus berjalan kaki sejauh dua kilometer menuju Puskesmas Kecamatan Weliman. Jalan setapak berbatu dan tanah becek karena hujan semalam membuat langkahnya tertatih. Ia tidak berani meminta tolong karena semua warga sibuk dengan urusan masing-masing. “Setiap minggu ada saja pasien dari seberang yang datang dalam kondisi kritis. Terlambat satu jam bisa fatal,” kata dr. Sari, kepala Puskesmas Weliman, saat memeriksa bayi Marcelina. Dari hasil pemeriksaan, bayi tersebut terkena infeksi saluran pernapasan akut. Dengan peralatan seadanya, ia memberikan antibiotik dan obat penurun panas. Di dinding ruang tunggu puskesmas, terlihat peta rute evakuasi yang digambar tangan — sebuah tanda betapa keterbatasan masih mewarnai pelayanan kesehatan di garis depan Indonesia. Petugas medis mengaku sudah sering mengajukan permohonan ambulans air ke pemerintah provinsi, namun hingga kini belum ada realisasi.
Keterbatasan dan Harapan di Puskesmas Weliman
Kondisi infrastruktur kesehatan di perbatasan Indonesia-Timor Leste masih memprihatinkan. Berdasarkan data lapangan, beberapa fakta memperlihatkan urgensi yang mendesak:
- Jarak tempuh dari Desa Silawan ke puskesmas terdekat mencapai 15 kilometer melalui laut, dengan perahu dayung sebagai satu-satunya moda transportasi.
- Angin kencang dan ombak tinggi sering menghambat perjalanan, terutama saat musim barat antara Desember hingga Maret.
- Tidak ada perahu bermotor khusus untuk layanan kesehatan, ambulans darat pun tidak menjangkau karena medan berbukit dan tidak ada jalan yang memadai.
- Ibu-ibu hamil sering melahirkan di perahu karena tidak sempat mencapai puskesmas, risiko perdarahan dan infeksi sangat tinggi.
Kepala Desa Silawan, Bapak Yohanes, dengan lantang menyuarakan aspirasi warganya saat rapat koordinasi bersama DPRD Kabupaten Malaka. “Kami butuh perahu bermotor untuk melayani kesehatan. Jangan biarkan ibu-ibu melahirkan di perahu. Ini perbatasan Indonesia, kami warga negara yang punya hak sama untuk mendapatkan akses kesehatan yang layak,” tegasnya. Akses terhadap fasilitas kesehatan di perbatasan bukan sekadar persoalan jarak, melainkan juga nyawa manusia. Setiap detik yang terlewat di atas perahu dayung bisa berarti perbedaan antara hidup dan mati. Saat mentari perlahan naik di atas Selat Wetar, Marcelina masih duduk di ruang tunggu puskesmas, menunggu anaknya pulih. Di belakangnya, laut biru terbentang — pemisah sekaligus penghubung antara Indonesia dan Timor Leste. Namun, perbatasan seharusnya bukan menjadi tembok yang menghalangi warganya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Sudah saatnya negara hadir lebih nyata: membangun akses, menghadirkan transportasi, dan memastikan bahwa tidak ada lagi ibu yang harus mempertaruhkan nyawa anaknya hanya karena keterbatasan geografis. Garis depan Indonesia bukanlah sekadar peta, melainkan manusia-manusia yang setiap hari berjuang untuk hidup.