Ombak pagi itu menghantam tiang-tiang beton yang retak di dermaga Gampong Iboih, Pulau Weh, Sabang. Deru air laut berbaur dengan suara perahu nelayan yang tertambat tali seadanya. Di ujung dermaga, sejumlah ibu-ibu dan nelayan sudah berkumpul, membawa spanduk bertuliskan tegas: "Kami Juga Warga Negara Indonesia". Mereka bukan sedang berdemo untuk kegaduhan, tetapi untuk menyuarakan panggilan darurat dari ujung negeri: akses laut yang menjadi urat nadi kehidupan kini hampir putus.
Potret Dermaga di Garis Terdepan
Dermaga yang menjadi satu-satunya penghubung warga Gampong Iboih dengan dunia luar kini menyisakan pemandangan yang memilukan. Tiang beton penyangga telah retak di banyak titik, papan kayu tempat berpijak sudah lapuk dimakan usia dan garam. Bahkan ombak kecil pun cukup untuk membuat struktur dermaga bergoyang, seolah setiap saat bisa roboh. Setiap hari, para nelayan terpaksa menambatkan perahu mereka dengan tali seadanya, berharap tidak ada badai yang datang menerjang.
- Tiang beton penyangga dermaga retak di sejumlah titik, sebagian sudah miring.
- Papan kayu jembatan dermaga lapuk dan bolong, membahayakan warga yang melintas.
- Tali tambat perahu hanya diikatkan ke batu atau tiang darurat, tidak ada fasilitas memadai.
- Akses bongkar muat hasil laut dan kebutuhan pokok menjadi sangat terbatas.
Kondisi ini bukan hanya persoalan infrastruktur, melainkan juga penghinaan terhadap harga diri warga yang tinggal di pulau terluar Indonesia. Mereka yang setiap hari berjuang di garis depan penjaga kedaulatan maritim, justru terabaikan oleh pemerintah pusat maupun daerah.
Suara Warga: Jeritan dari Ujung Negeri
Aksi damai yang berlangsung sejak pagi itu disaksikan aparat keamanan dengan tenang. Warga tidak membawa senjata, hanya spanduk dan lantang suara. Seorang tokoh pemuda setempat, yang enggan disebutkan namanya, menyampaikan bahwa sudah enam bulan surat permohonan perbaikan dermaga diajukan kepada pemerintah, namun tak pernah ada jawaban. "Kami bukan meminta kemewahan, hanya sebuah dermaga yang layak untuk menambatkan perahu dan mengangkut hasil laut. Ini hak kami sebagai warga negara," ujarnya dengan nada prihatin.
Para ibu-ibu yang ikut dalam demo juga menyuarakan kekhawatiran mereka. Setiap kali hendak berbelanja ke pasar di Sabang, mereka harus melewati dermaga yang goyah dengan membawa barang di kepala. Tak jarang mereka harus menunggu air surut karena perahu tidak bisa merapat. Aktivitas ekonomi dan pendidikan anak-anak ikut terganggu. "Kami hanya ingin diperhatikan. Pulau Weh ini adalah gerbang utara Indonesia, tapi kami merasa seperti warga kelas dua," tambah seorang ibu sambil menggendong anaknya.
Demo ini bukan aksi anarkis, melainkan jeritan hati dari sebuah komunitas yang merasa dilupakan. Mereka berharap pemerintah segera turun tangan, bukan hanya untuk memperbaiki dermaga, tetapi juga untuk membangun akses laut yang memadai dan berkelanjutan. Keberadaan mereka di pulau terluar bukanlah pilihan, melainkan mandat untuk menjaga kedaulatan bangsa.
Ketika matahari makin tinggi di atas cakrawala, spanduk-spanduk itu tetap berkibar diterpa angin laut. Di balik teriakan warga, ada pesan yang lebih dalam: bahwa kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari megahnya ibu kota, tetapi dari seberapa besar kita menghargai mereka yang berdiri paling depan menjaga negeri. Dermaga Gampong Iboih adalah cermin — apakah kita akan membiarkan pilar-pilar itu runtuh, atau justru memperkuatnya demi kejayaan Indonesia dari sabang sampai merauke.