Mentari pagi perlahan merangkak naik di ufuk timur Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, saat puluhan warga Desa Nemberala berjalan menuju pesisir pantai berpasir putih. Laut biru membentang tanpa batas di selatan—hanya garis khayal yang memisahkan Indonesia dengan Australia. Ombak bergulung lembut, sesekali menyapu sampah plastik dan kayu apung yang terdampar. Hari itu bukan sekadar bersih-bersih biasa; ini adalah deklarasi cinta terhadap rumah terakhir di selatan negeri. Anak-anak berlarian memungut botol bekas, sementara orang dewasa mengangkut karung-karung berisi sampah. Ketua Karang Taruna setempat, Andre, mengawasi sambil tersenyum. 'Perbatasan kami adalah rumah, harus dibersihkan. Anak cucu harus mewarisi laut bersih,' katanya, suaranya hampir tenggelam oleh deburan ombak.
Gotong Royong di Ujung Negeri: Menjaga Perbatasan dari Sampah Plastik
Kegiatan pagi ini bukanlah seremonial belaka. Di Pantai Nemberala, kecintaan terhadap kebersihan dan nasionalisme berjalan beriringan. Warga bergerak secara spontan, membersihkan setiap sudut garis pantai yang kerap menjadi tempat persinggahan sampah kiriman dari laut lepas. Berikut kondisi lapangan yang terpantau:
- Kondisi geografis: Pantai Nemberala terletak di ujung selatan Rote Ndao, berbatasan langsung dengan Zona Ekonomi Eksklusif Australia. Garis pantai sepanjang puluhan kilometer menjadi garda terdepan dari pencemaran laut lintas batas.
- Sampah dominan: Plastik sekali pakai, botol kaca, dan kayu apung mendominasi. Dalam sepekan, warga bisa mengumpulkan hingga 15 karung besar sampah—sebuah angka yang mencerminkan tekanan ekologis di pantai perbatasan.
- Partisipasi anak-anak: Bocah-bocah dengan ceria mengangkut sampah lebih kecil. 'Aku mau pantai ini bersih seperti di TV,' ujar Rina (9), salah satu relawan cilik, sambil memungut tutup botol plastik.
Di antara mereka, beberapa nelayan menunjuk ke arah selatan: kadang-kadang kapal ikan asing melintas tanpa izin. Inilah realitas perbatasan—keindahan berpadu dengan ancaman. TNI AL hadir bukan hanya sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai penyuluh lingkungan.
Penyuluhan TNI AL: Perbatasan Bukan Sekadar Garis
Di bawah tenda darurat, seorang personel TNI AL memaparkan peta sederhana. 'Laut ini milik kita. Menjaga kebersihan berarti menjaga kedaulatan. Sampah tidak kenal batas—kapal asing juga tidak,' tegasnya di hadapan warga yang duduk melingkar. Materi penyuluhan mencakup tiga hal: dampak pencemaran terhadap biota laut, cara membedakan kapal lokal dan kapal asing, serta pelaporan cepat jika menemukan aktivitas mencurigakan. Warga antusias, sesekali melontarkan pertanyaan. Seorang ibu paruh baya bertanya, 'Kalau lihat kapal asing buang sampah, kita lapor ke mana?' Personel tersebut menjawab dengan nomor kontak pos TNI AL terdekat.
Di ujung selatan negeri ini, setiap butir pasir, setiap ombak, dan setiap sampah yang dipungut adalah bentuk nyata nasionalisme yang tidak perlu diucapkan—cukup dilakukan. Warga Rote Ndao, dengan tangan mereka sendiri, menjaga pantai perbatasan sebagai warisan bagi generasi mendatang. Mari kita renungkan: menjaga laut di garis depan bukan hanya tugas aparat, tetapi panggilan hati bagi setiap anak bangsa yang peduli pada kedaulatan dan kelestarian lingkungan. Semoga semangat Nemberala menyala di seluruh perbatasan Indonesia.