Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti permukaan Selat Sebatik ketika derap langkah kecil mulai terdengar di Dermaga Desa Aji Kuning. Sekelompok anak berseragam putih merah—meski lusuh dan sudah usang—bergantian menaiki sebuah perahu kayu bercat biru yang terkatung-katung di tepi dermaga. Tas ransel mereka digendong rapat ke badan, seolah ikut merasakan beban perjuangan yang harus ditempuh. Di buritan, seorang guru bernama Bapak Joko Prasetyo (38 tahun) berdiri tegak, satu tangan memegang dayung kemudi, tangan lain memeriksa mesin tempel tua yang menjadi satu-satunya penggerak perahu. "Anak-anak dari Pulau Sebatik bagian utara harus menyeberang ke sekolah di Nunukan karena tidak ada SMP yang dekat. Butuh satu jam kalau cuaca baik. Kadang hujan besar, kami menunda," ujarnya setengah berteriak mengatasi deru mesin yang mulai hidup. Perahu bermuatan 15 jiwa itu perlahan meninggalkan dermaga kayu yang reyot, melesat di atas air yang mulai beriak. Dari kejauhan, di seberang selat, tiang bendera merah putih di halaman sekolah tujuan tampak samar-samar—seperti harapan yang meski redup namun tak pernah padam.
Potret Perjuangan Anak Perbatasan Nunukan
Inilah pemandangan rutin setiap hari di perbatasan Kalimantan Utara, khususnya di wilayah Sebatik. Bagi anak-anak yang tinggal di Pulau Sebatik bagian utara, perjalanan menuju sekolah bukan sekadar berjalan kaki atau naik angkutan umum, melainkan harus menyeberangi selat dengan perahu sekolah yang ringkih. Mereka adalah anak perbatasan yang sejak dini sudah akrab dengan kerasnya alam. Dari dalam perahu, senyum mereka tetap merekah saat bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya, meski seragam mereka basah oleh percikan air laut. Perjuangan mereka adalah bukti nyata bahwa semangat belajar tak pernah surut meski di ujung negeri.
- Infrastruktur pendidikan minim: Tidak ada SMP yang tersedia di Pulau Sebatik bagian utara, sehingga anak-anak harus menyeberang ke Nunukan.
- Waktu tempuh tergantung cuaca: Dalam kondisi normal, perjalanan memakan waktu satu jam. Namun saat ombak besar atau hujan deras, perjalanan ditunda demi keselamatan.
- Perahu kayu sebagai satu-satunya moda: Perahu bercat biru bermuatan 15 orang ini menjadi tulang punggung mobilitas sekolah, tanpa jaminan keselamatan modern.
- Guru sekaligus nahkoda: Bapak Joko Prasetyo tidak hanya mengajar, tetapi juga mengemudikan perahu setiap hari, mengawal anak-anak melintasi selat.
Kontras dengan Negeri Seberang
Begitu perahu menjauh dari dermaga, pemandangan di seberang selat menjadi gamblang terlihat. Di sisi Malaysia, bangunan-bangunan megah menjulang, jalan raya mulus membentang, dan kendaraan melaju lancar. Sebaliknya, dari atas perahu kayu yang oleng, hanya tampak rumah panggung sederhana dan dermaga reyot di sisi Indonesia. Perbandingan ini menyiratkan betapa jauhnya kesenjangan infrastruktur antara kedua negara. Namun ironisnya, anak-anak di perahu ini justru menunjukkan keoptimisan yang luar biasa. Mereka tetap bersemangat, tetap bernyanyi, dan tetap percaya bahwa pendidikan adalah jalan menuju masa depan yang lebih baik. Di tengah keterbatasan, mereka adalah pilar kebangsaan yang tak tergoyahkan.
Setiap tetes air laut yang membasahi seragam mereka seolah menjadi saksi bisu perjuangan tanpa henti. Di ujung negeri ini, di perbatasan Kalimantan Utara, Sebatik bukan sekadar nama pulau—ia adalah simbol keteguhan. Anak-anak perbatasan ini mengajarkan bahwa nasionalisme bukanlah kata retoris, melainkan tindakan nyata: bangun pagi, menaiki perahu kayu, dan menyeberangi selat demi secerca ilmu. Kitalah yang patut bertanya: sudahkah negeri ini hadir dengan infrastruktur dan pelayanan yang layak bagi mereka? Atau biarlah semangat mereka terus mengingatkan bahwa setiap jengkal tanah Indonesia, di mana pun berada, layak diperjuangkan.