SUARA PERBATASAN

Batas Waktu Dua Bulan Habis, Warga Sebatik Ancam Buka Paksa Pintu Embung Lapri Besok

Batas Waktu Dua Bulan Habis, Warga Sebatik Ancam Buka Paksa Pintu Embung Lapri Besok

Warga Sebatik di Nunukan ancam buka paksa pintu Embung Lapri setelah tenggat waktu dua bulan untuk ganti rugi Rp 24 miliar habis. Sengketa lahan dan mandeknya birokrasi telah mengubah kebun produktif menjadi rawa dan menghambat distribusi air bersih bagi ribuan rumah di perbatasan. Ini adalah potret pilu dari ketegangan di garis depan pembangunan, di mana janji negara beradu dengan realitas hidup warga yang terpinggirkan.

Embung Lapri di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, memantulkan panorama kelam di siang itu. Air yang mestinya mengalir jernih untuk kehidupan 8.000 sambungan rumah di wilayah perbatasan kini menggenang luas, mengitari batang-batang kelapa sawit yang setengah tenggelam. Kabut lembap menggantung di antara pohon-pohon dengan daun menguning, di atas lahan produktif yang perlahan berubah menjadi rawa. Suasana hening itu mengiris, terdengar hanya desir angin yang mengusap hamparan air keruh dan desah kegetiran di hati para pemiliknya yang sedang berhadap-hadapan dengan nasib tanah mereka.

Di Garis Depan Penantian: Tenggat Waktu dan Janji yang Mengambang

Dua bulan yang diberikan telah berlalu. Tanggal 30 Juni 2026 menjadi batas kesabaran 43 warga Desa Lapri dan Bukit Harapan. Di depan pintu air bersih yang tak juga mengalirkan keadilan itu, mereka berkumpul dengan pakaian sederhana dan tekad yang mengeras. Ancaman membuka paksa pintu embung bukanlah tindakan anarkis, melainkan bahasa terakhir dari warga yang merasa suaranya hilang dalam gemuruh janji. Mereka bukan hendak menghancurkan infrastruktur vital, tetapi meruntuhkan tembok birokrasi yang membekukan ganti rugi Rp 24 miliar yang telah digaungkan sejak setahun silam.

  • Kondisi Infrastruktur: Embung Lapri dalam proyek perluasan yang menggantung, menenggelamkan lahan produktif warga tanpa penyelesaian.
  • Suara Warga: Suara mereka terperangkap dalam sengketa nilai dan administrasi, terutama setelah Ketua Kantor Jasa Penilai Publik meninggal dunia dan mengunci proses.
  • Fakta Lapangan: Air bersih untuk ribuan rumah di perbatasan terhambat oleh konflik lahan, sementara kebun kelapa sawit warga berubah menjadi kubangan.

Potret Kesabaran yang Berubah Menjadi Api Perlawanan di Ujung Negeri

Wajah-wajah yang diukir kesabaran bertahun-tahun kini memancarkan tekad baja. Mereka telah menjadi saksi bagaimana tanah warisan nenek moyang, tempat mereka menggantungkan hidup di perbatasan Nunukan ini, perlahan sirna ditelan proyek. Mereka adalah benteng terdepan yang merasakan langsung getirnya pembangunan yang tak berpihak. Di sini, di Pulau Sebatik, janji negara untuk kesejahteraan dan keadilan beradu dengan realitas pilu masyarakat garis depan. Lahan-lahan yang seharusnya memberi kehidupan kini menjadi simbol ketidakpastian, sementara kebutuhan dasar akan air bersih bagi ribuan keluarga juga tergantung pada penyelesaian konflik ini.

Ancaman membuka paksa pintu embung esok hari bukan sekadar gerakan protes, melainkan teriakan hati dari warga yang hidupnya terjepit di antara dua kebutuhan vital: infrastruktur air bersama dan hak milik tanah pribadi. Mereka terjebak dalam dilema menjaga aset negara sekaligus mempertahankan sumber penghidupan keluarga. Ini adalah potret nyata dari ketegangan di tapal batas, di mana pembangunan fisik seringkali meninggalkan luka sosial yang dalam pada warga yang seharusnya dilindungi.

Dari Embung Lapri yang muram ini, kita diajak untuk melihat lebih dekat. Melihat tanah perbatasan bukan hanya sebagai garis kedaulatan di peta, tetapi sebagai rumah bagi ribuan keluarga Indonesia dengan cerita, harapan, dan pergulatan hidup mereka. Semangat nasionalisme sejati terpancar dari keteguhan warga seperti mereka, yang tetap berdiri di tanah airnya meski dihimpit kesulitan. Menjaga kedaulatan di perbatasan berarti pula menjaga keadilan dan kesejahteraan bagi setiap anak bangsa yang hidup di ujung negeri ini. Mari jadikan suara mereka dari Sebatik, Nunukan, sebagai cermin untuk membangun perbatasan yang tidak hanya kuat secara geopolitik, tetapi juga manusiawi dan berkeadilan bagi seluruh warganya.

Artikel terkait