Matahari pagi menyinari permukaan Laut Sawu saat ombak kecil berkejaran di Pantai Kalabahi, Kecamatan Teluk Mutiara, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Di sini, di garis perbatasan laut Indonesia dengan Timor Leste, puluhan prajurit TNI Angkatan Laut dari Pangkalan TNI AL Kalabahi berbaur dengan warga Desa Abanal. Mereka membungkuk, memungut sampah plastik yang berserakan di antara pasir putih dan karang. Botol bekas, kemasan mi instan, dan kantong kresek berwarna-warni terlihat mencolok di bawah sinar mentari. Suara sapu lidi dan denting botol plastik yang dimasukkan ke dalam karung menjadi irama khas di pagi itu. Udara asin bercampur bau sampah yang mulai terurai, namun semangat gotong royong terasa lebih kuat dari segala aroma tak sedap.
Gotong Royong di Ujung Negeri: Membersihkan Sampah, Menjaga Laut
Kegiatan ini merupakan bagian dari program “Perbatasan Bersih” yang digagas oleh Pangkalan TNI AL Kalabahi. Sejak pagi, puluhan karung telah terisi penuh dengan sampah plastik yang akan dikumpulkan untuk didaur ulang. Tidak hanya membersihkan, mereka juga menanam 100 pohon bakau di sepanjang garis pantai untuk mencegah abrasi dan menjaga ekosistem laut. Berikut fakta lapangan yang tercatat:
- Lokasi: Pantai Kalabahi, Desa Abanal, perbatasan laut NTT-Timor Leste.
- Jumlah peserta: 30 prajurit TNI AL dan 50 warga desa.
- Sampah terkumpul: 20 karung berisi botol plastik, kemasan makanan, dan tali nilon.
- Bibit bakau: 100 pohon ditanam di area seluas 0,5 hektar.
“Kami ingin perbatasan ini tidak hanya menjadi garda terdepan keamanan, tetapi juga contoh dalam menjaga lingkungan,” ujar Letnan Kolonel (L) Budi Santoso, Komandan Pangkalan TNI AL Kalabahi, di sela kegiatan. Warga pun antusias. Seorang ibu rumah tangga, Maria, terlihat sibuk memilah sampah sesuai jenisnya. “Biasanya sampah ini dibuang di belakang rumah atau dibakar. Sekarang kami sadar, lebih baik dikumpulkan dan didaur ulang,” katanya sambil menyeka keringat di dahinya.
Harapan dari Nelayan Tua: Laut adalah Hidup Kami
Di tengah keramaian, seorang nelayan tua bernama Martinus (65) mengayuh perahu kecilnya mendekati pantai. Di atas perahunya terdapat beberapa karung berisi sampah yang ia kumpulkan saat melaut. Dengan gerakan perlahan, ia menurunkan karung-karung itu ke darat. “Laut adalah hidup kami, harus dijaga. Saya sudah 40 tahun melaut di sini, dan sekarang saya lihat sampah plastik semakin banyak. Kalau tidak dibersihkan, ikan-ikan akan mati,” katanya sambil tersenyum memperlihatkan gigi yang mulai ompong. Senyum Martinus merefleksikan harapan yang sederhana namun dalam: bahwa di ujung negeri, rasa cinta terhadap lingkungan tetap hidup.
Kegiatan ini juga menjadi momentum edukasi bagi warga. Para prajurit TNI AL memberikan sosialisasi singkat tentang bahaya sampah plastik bagi biota laut dan pentingnya daur ulang. Beberapa anak-anak desa ikut serta, dengan riang memungut sampah kecil di sekitar lokasi. Mereka diajarkan untuk tidak membuang sampah sembarangan sejak dini. “Kami ingin generasi muda di perbatasan ini tumbuh dengan kesadaran lingkungan yang tinggi,” tambah Letkol Budi.
Di antara tiupan angin laut dan deburan ombak, kegiatan ini mengingatkan kita bahwa menjaga lingkungan tidak mengenal batas teritorial. Perbatasan NTT dengan Timor Leste bukan hanya garis pemisah negara, melainkan juga rumah bagi kehidupan yang harus dijaga bersama. Saat senja mulai merambat, karung-karung sampah diangkut ke truk untuk dibawa ke tempat daur ulang. Pohon bakau yang baru ditanam tertatih-tatih diterpa angin, namun akarnya mulai mencengkeram tanah. Inilah wajah gotong royong di ujung negeri: sederhana, tulus, dan penuh harapan. Semoga semangat ini terus berkobar, tidak hanya di Pantai Kalabahi, tetapi di seluruh pelosok perbatasan Indonesia. Karena, dari sanalah Indonesia menjaga martabatnya sebagai bangsa yang besar dan peduli terhadap lingkungan.