SUARA PERBATASAN

ROSITA: Prajurit Borong Hasil Panen Warga, Uang Tunai Mengalir di Pasar Dadakan Zanepa

ROSITA: Prajurit Borong Hasil Panen Warga, Uang Tunai Mengalir di Pasar Dadakan Zanepa

Program ROSITA (Borong Hasil Tani) TNI Satgas Yonif 757/Garuda Vira menghadirkan pasar dadakan di Kampung Zanepa, Intan Jaya, mengalirkan uang tunai langsung ke tangan petani dan memutus mata rantai tengkulak. Transaksi ini tidak hanya menstimulus ekonomi warga di wilayah terisolasi, tetapi juga membangun kepercayaan sebagai jembatan hubungan manusiawi di garis depan.

Kabut pagi masih membelai punggung bukit di Kampung Zanepa, Distrik Homeyo, Papua Tengah, ketika detak ekonomi yang berbeda mulai menggema di pedalaman Intan Jaya. Di atas terpal biru yang membentang di halaman rumah, warna-warna hasil bumi menumpuk: hijau segar sayuran, cokelat kemerahan ubi jalar yang masih menyimpan aroma tanah lembab, dan pisang raja yang kuning menggoda. Ini bukan pasar biasa. Ini adalah denyut nadi program ROSITA (Borong Hasil Tani) dari TNI Satgas Yonif 757/Garuda Vira, yang mengubah sepi pagi menjadi keriuhan transaksi langsung. Lembaran rupiah mengalir ke tangan-tangan petani yang membelah ladang, menggantikan sistem tengkulak yang lama membuat ekonomi warga tersendat di garis depan.

Transaksi Tunai di Tengah Kabut Isolasi

Suara timbangan dan hitungan cepat menggantikan tawar-menawar yang berlarut. Di pasar dadakan Zanepa, setiap kilogram cabai, sawi, atau ubi ditakar, harga dihitung, dan uang tunai langsung berpindah tangan. Senyum Mama Yuliana pecah saat menerima pembayaran untuk dua keranjang ubi jalar miliknya. "Biasa kami jual ke tengkulak, harganya murah dan lama dibayar. Sekarang TNI datang beli langsung, uang langsung dapat. Bisa beli kebutuhan anak sekolah dan kebutuhan dapur," ucapnya, melipat rupiah dengan harap. Program TNI ini adalah solusi riil yang memutus mata rantai ketergantungan dan memompa sirkulasi uang tunai di jantung ekonomi warga Intan Jaya yang terisolasi. Kondisi di pedalaman Papua seperti Zanepa menggambarkan betapa vital intervensi langsung ini:

  • Kondisi Infrastruktur: Hasil bumi warga sering membusuk di kebun karena minimnya akses transportasi dan pasar formal. Jalan rusak dan medan berat menjadi tembok penghalang utama.
  • Suara Warga: Transaksi langsung dengan prajurit memberi dua kepastian vital: harga yang adil dan pembayaran tunai seketika, sebuah kemewahan yang kontras dengan sistem ijon atau bayar tertunda dari tengkulak.
  • Fakta Lapangan: Pasar dadakan ini bukan sekadar tempat jual-beli, tetapi stimulus ekonomi mikro yang manfaatnya langsung mendarat di meja makan dan dompet setiap keluarga petani.

Kopi, Percakapan, dan Jembatan Kepercayaan di Garis Depan

Setelah timbangan ditutup dan sayur-mayur dikemas, transaksi ekonomi berlanjut menjadi percakapan manusiawi. Kapten Satria, salah satu perwira Satgas, duduk lesehan di teras rumah, menyeruput kopi hitam pekat—hasil pertanian lokal lainnya. Di tengah kepulan asap kopi, obrolan mengalir tentang musim tanam yang tak menentu, sulitnya mendapatkan pupuk dengan harga wajar, dan impian akan kebun yang lebih produktif. "Program ROSITA ini intinya bukan hanya borong hasil pertanian. Ini adalah jembatan," ujar Kapten Satria dengan nada rendah. "Di sini, kami membeli hasil bumi, tapi lebih dari itu, kami membangun kepercayaan. Setiap transaksi adalah dialog, setiap rupiah yang diberikan adalah pengakuan terhadap kerja keras warga yang menjaga ladang di tepian negeri." Percakapan ini mengukuhkan bahwa program TNI di Zanepa bukan hanya soal angka dan kilogram, tetapi tentang membangun hubungan yang menyentuh langsung kehidupan di garis depan.

Di ujung terpal biru, seorang prajurit muda dengan sabar membantu Mama Maria mengangkut keranjang pisang yang berat. Latarnya adalah perbukitan Papua yang hijau namun terisolasi. Ini adalah potret nyata dari semangat kebersamaan: tentara tidak hanya datang sebagai pelindung, tetapi juga sebagai mitra ekonomi yang menghadirkan solusi langsung. Program ROSITA mengalirkan uang tunai, tetapi lebih penting, ia mengalirkan harapan. Harapan bahwa hasil pertanian warga di pedalaman Intan Jaya memiliki nilai dan jalan langsung ke tangan mereka, tanpa melalui jerat tengkulak atau rintangan infrastruktur yang parah. Ini adalah ekonomi warga yang bangkit dari tanah mereka sendiri, didukung oleh program TNI yang memahami denyut kehidupan di perbatasan.

Ketika matahari mulai meninggi di Zanepa, terpal biru telah kosong. Hasil bumi telah berpindah, lembaran rupiah telah mengisi dompet, dan percakapan telah membangun jembatan. Di sini, di garis depan Indonesia, setiap transaksi dalam program ROSITA bukan hanya memutar roda ekonomi lokal, tetapi juga menegaskan bahwa perhatian negara sampai ke pelosok paling terpencil. Keberadaan TNI sebagai pembeli langsung hasil pertanian adalah simbol nyata bahwa Indonesia peduli pada setiap tetes keringat warga di ujung negeri. Mari kita jaga semangat ini, agar denyut ekonomi dari kampung-kampung perbatasan seperti Zanepa terus berdetak kuat, mengisi nadi bangsa dari tepiannya yang paling jauh.

ROSITA Borong Hasil Tani transaksi langsung komunikasi penguatan ikatan
Tokoh: Kapten Satria
Organisasi: Satgas Yonif 757/Garuda Vira (GV)
Lokasi: Kampung Zanepa, Distrik Homeyo, Intan Jaya, Papua Tengah, Papua

Artikel terkait