SUARA PERBATASAN

Suara Nelayan Pulau Rote: 'Kami Butuh Pelabuhan yang Layak, Bukan Sekedar Proyek Pemerintah'

Suara Nelayan Pulau Rote: 'Kami Butuh Pelabuhan yang Layak, Bukan Sekedar Proyek Pemerintah'

Di perbatasan laut Pulau Rote, nelayan bergelut dengan dermaga kayu yang lapuk sambil menanti realisasi janji pembangunan pelabuhan yang tak kunjung tiba. Keterbatasan infrastruktur mendorong anak muda merantau dan meredupkan potensi ekonomi maritim di garis depan. Suara mereka adalah seruan nyata dari ujung selatan Indonesia agar negara hadir tak hanya menjaga kedaulatan, tetapi juga kesejahteraan penjaga lautnya.

Fajar baru saja menyingsing di Pantai Nemberala, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, menampakkan potret keseharian yang tak lekang waktu di ujung selatan Indonesia. Di perbatasan laut ini, puluhan perahu kayu berwarna biru, hijau, dan merah karat berjejer di tepian dermaga kayu yang lapuk. Suara desir ombak bercampur dengan riuh rendah para nelayan yang sibuk membongkar hasil tangkapan pagi: ikan tongkol mengkilap, cumi-cumi, dan kerapu yang masih menggelepar. Aroma amis ikan segar dan garam laut menusuk hidung, menjadi parfum khas garis depan negeri yang menggambarkan betapa produktifnya laut ini, meski diiringi keluhan tentang infrastruktur yang tertinggal. Papan-papan dermaga sudah banyak yang patah, memaksa setiap langkah dilakukan dengan hati-hati.

Dermaga Lapuk dan Janji yang Menguap di Garis Depan

"Kalau air pasang besar, ombak langsung masuk sampai ke pinggang. Susah sekali membongkar ikan, harus jinjit-jinjit dan takut terjatuh," keluh Markus (50), seorang nelayan dengan kulit yang terbakar matahari, sambil mengangkat keranjang ikan yang berat. Suaranya lirih namun tegas, mewakili kegelisahan ratusan pelaut tradisional di perbatasan laut ini. Di balik keriuhan aktivitas ekonomi pagi itu, tersimpan kekecewaan mendalam terhadap wacana pembangunan yang tak kunjung nyata. Wacana pembangunan pelabuhan perikanan terpadu telah bergulir selama lima tahun, namun yang tampak di lapangan hanyalah:

  • Papan nama proyek pemerintah yang sudah pudar dimakan terik dan hujan.
  • Kunjungan survei dan wawancara yang berulang, tanpa tindak lanjut yang konkret.
  • Kondisi infrastruktur pelabuhan tradisional yang semakin merosot, mengancam keselamatan dan produktivitas.

"Kami butuh pelabuhan yang layak, bukan sekadar proyek di atas kertas. Hasil laut kita melimpah, tapi kami seperti berjuang sendiri di garis terdepan ini," tambah Markus, matanya menatap jauh ke lautan yang membentang hingga ke Australia.

Anak Muda Merantau, Laut Terdepan Kehilangan Generasi

Dampak dari infrastruktur yang terabaikan ini tidak hanya dirasakan di dermaga, tetapi merembet ke masa depan pulau. Banyak anak muda Rote yang memilih merantau, meninggalkan laut warisan leluhur mereka. Mereka berbondong-bondong ke Australia atau Kota Kupang untuk mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan. "Lapangan kerja di sektor kelautan di sini sulit berkembang. Tanpa dukungan infrastruktur pelabuhan yang memadai seperti cold storage atau akses transportasi yang baik, hasil tangkapan kami sering dijual dengan harga murah. Mana bisa menarik generasi muda untuk bertahan?" ujar salah seorang nelayan yang enggan disebut namanya. Potret ini adalah bentuk pengabaian yang perlahan mengikis potensi ekonomi dan ketahanan di wilayah perbatasan laut strategis.

Di titik terdepan Republik ini, kehadiran negara memang terlihat melalui pos pengawasan TNI AL dan Bea Cukai yang menjaga kedaulatan. Namun, kebutuhan dasar para nelayan—para penjaga laut sesungguhnya—seringkali terpinggirkan. Aspirasi warga yang sederhana tentang pelabuhan yang layak, yang aman dan mendukung mata pencaharian mereka, seolah tenggelam dalam birokrasi dan janji. Mereka bukan meminta kemewahan, melainkan pengakuan bahwa keberadaan dan kerja keras mereka adalah bagian dari benteng pertahanan maritim Indonesia.

Suara dari Pantai Nemberala ini adalah cerminan kondisi riil di banyak titik perbatasan Indonesia: kekayaan alam yang melimpah, semangat warga yang tak padam, namun dukungan infrastruktur yang masih tertatih. Mendengarkan dan mewujudkan aspirasi warga nelayan di garis depan bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi sebuah bentuk penghargaan atas pengabdian mereka menjaga setiap jengkal laut kedaulatan NKRI. Ketika dermaga di perbatasan itu akhirnya layak, yang kita bangun bukan sekadar pelabuhan, melainkan benteng semangat nasionalisme dari ujung terdepan negeri, mengukuhkan bahwa Indonesia hadir untuk seluruh anak bangsanya, dari Sabang sampai ke Rote.

pelabuhan nelayan infrastruktur Pulau Rote
Tokoh: Markus
Organisasi: TNI AL, Bea Cukai
Lokasi: Pantai Nemberala, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, Australia, Kupang, Indonesia

Artikel terkait