Udara terasa panas dan lembab di Pantai Nemberala, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Dermaga kayu yang sederhana itu dipenuhi perahu-perahu warna-warni berukuran kecil, dengan nama dan nomor lambung yang sudah memudar. Bau amis ikan laut, campur aroma garam yang menempel di seragam nelayan, menyapa setiap pendatang. Di ujung dermaga, sebuah pompa BBM terlihat sepi dan tertutup debu laut — monumen diam dari janji yang belum terpenuhi untuk nelayan perbatasan. Dari balik kapal birunya, mata Amos (38) memandang jauh ke arah laut lepas. Jaring di tangannya tersobek, tetapi kekhawatiran di hatinya jauh lebih besar: bagaimana melaut tanpa BBM subsidi yang jadi nyawa mereka.
Sehari Tanpa Solar: Jejak Kelaparan di Dermaga Perbatasan
Pantai Nemberala bukan sekadar hamparan pasir. Ini adalah jalan hidup. Setiap subuh, suara mesin diesel semestinya menggema, membahana tanda-tanda semangat melaut. Namun sudah dua minggu lebih, kesunyian yang mendominasi. 'Untuk sekali melaut minimal 30 liter solar. Kalau beli dari pengecer harganya Rp 15.000 lebih per liter, mana cukup hasil tangkapan?' ujar Amos sambil memperbaiki jaringnya. Anak-anak berlarian di antara perahu, tak sadar bahwa ayah mereka mungkin tak bisa membawa pulang ikan malam ini. Kondisi riil ini adalah gambaran nyata dari garis depan pangan Indonesia, di mana mata pencaharian bergantung pada ketersediaan BBM subsidi yang sering kali tak sampai.
- Pompa BBM di ujung dermaga tidak beroperasi lebih dari dua minggu
- Nelayan terpaksa membeli dari pengecer dengan harga 2–3 kali lipat dari harga subsidi
- Satu kali melaut memerlukan minimal 30 liter solar, biayanya bisa menghabiskan seluruh pendapatan hasil tangkapan
- Gelombang di perairan perbatasan dikenal ganas, risiko mesin mati di tengah laut sangat tinggi
Gelas Kopi Pahit dan Suara yang Bergetar
Warung kopi sederhana di dekat dermaga menjadi ruang curhat yang sesak. Puluhan nelayan, wajah mereka terbakar matahari, berkumpul membicarakan masalah yang sama. Suara mereka berdesis, penuh kekecewaan namun tetap ada semangat bertahan. Mereka merasa seperti warga kelas dua, hanya diingat saat upacara bendera atau kunjungan pejabat, padahal hasil tangkapan dari perairan perbatasan turut mengisi piring makan bangsa. 'Kadang kami nekat melaut dengan bahan bakar seadanya, nyawa taruhannya,' kata Amos, nadanya datar namun bergetar. Kata-kata itu menggambarkan keberanian sekaligus keputusasaan yang menjadi bagian dari kehidupan di Pulau Rote dan wilayah perbatasan lain di Nusa Tenggara Timur. Matahari mulai tenggelam, membentuk siluet panjang di atas perahu-perahu yang terpaksa tetap tertambat.
Suara dari dermaga Nemberala ini bukanlah suara tunggal. Ia mewakili gema yang sama dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote — desakan dari ujung negeri yang meminta perhatian nyata, bukan sekadar janji di atas kertas. Nelayan perbatasan adalah penjaga kedaulatan pangan sekaligus penjaga batas negara yang bekerja dengan tenaga dan nyawa mereka sendiri. Setiap tetes solar yang mereka butuhkan bukan sekadar bahan bakar mesin, melainkan bahan bakar harapan untuk tetap bertahan, melaut, dan memberi sumbangsih bagi Indonesia.
Menyaksikan langsung kondisi ini di garis depan, di Pulau Rote, mengajak kita untuk merenungkan kembali makna keadilan energi. Ketika BBM subsidi untuk nelayan tak kunjung mengalir, bukan hanya perahu yang berhenti berlayar, tetapi juga denyut kehidupan di wilayah perbatasan yang perlahan melemah. Kepedulian kita terhadap nasib mereka adalah wujud nyata dari semangat kebangsaan — bahwa tak ada satu pun sudut Indonesia, termasuk pulau-pulau terluar di Nusa Tenggara Timur, yang boleh terabaikan. Mereka menjaga laut kita, sudah selayaknya kita menjaga harapan mereka dengan solusi yang konkret dan berkelanjutan.